JAKARTA, BUKAMATANEWS - Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah tokoh puncak diplomasi Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (4/2). Pertemuan yang dihadiri mantan menteri dan wakil menteri luar negeri ini digelar untuk membahas perkembangan geopolitik dan arah politik luar negeri Republik Indonesia.
Pantauan di lokasi menunjukkan mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi tiba sekitar pukul 14.30 WIB. Retno terlihat berjalan cepat masuk ke kompleks istana dan tidak memberikan pernyataan kepada awak media yang menunggu.
Selain Retno, hadir pula mantan Menlu Alwi Shihab dan Marty Natalegawa, serta mantan Wakil Menlu Dino Patti Djalal. Pertemuan ini juga dihadiri sejumlah think tank di bidang hubungan internasional.
Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir yang ditemui di tempat terpisah mengonfirmasi agenda pertemuan. "Bapak Presiden hari ini menerima para Menlu, wakil Menlu, juga mantan Menlu, wakir Menlu, serta para think tank untuk berdiskusi," ujar Arrmanatha.
Namun, kesan mendadak dan agenda spesifik pertemuan ini masih diselimuti kabut. Marty Natalegawa mengaku hanya memenuhi undangan tanpa mengetahui detail pembahasan. "Saya tidak tahu, sama dengan Anda-Anda. Saya hanya memenuhi undangan," kata Marty.
Sementara itu, Dino Patti Djalal memberikan sedikit gambaran. Menurutnya, undangan yang diterimanya menyebutkan diskusi akan berkaitan dengan arah politik luar negeri Indonesia. "Dalam suratnya disampaikan mengenai politik luar negeri, arah politik luar negeri, including Palestina," ungkap Dino.
Ketika ditanya wartawan apakah isu Board of Peace—sebuah inisiatif perdamaian yang pernah diwacanakan Prabowo—akan dibahas, Dino memilih untuk tidak berkomentar. "Saya nanti saja," jawabnya singkat sebelum berpisah dengan kalimat bernostalgia, "By the way, I miss this place."
Pertemuan ini menarik perhatian publik karena menghimpun para diplomat senior dari berbagai periode pemerintahan. Kehadiran mereka di Istana menandai upaya Presiden Prabowo untuk mendengar masukan strategis menyangkut posisi Indonesia di kancah global, yang tengah diwarnai berbagai ketegangan geopolitik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Sekretariat Presiden maupun Kementerian Luar Negeri mengenai hasil atau kesimpulan dari diskusi tertutup tersebut. (*)
BERITA TERKAIT
-
Presiden Perintahkan Panglima TNI dan Kapolri Bersihkan Oknum Pelindung Penyelundupan
-
Budi Arie Ingin Gabung Gerindra, Eric Horas: Harus Pahami Arah Perjuangan Partai
-
Ormas OI DKI Jakarta: Ilham Azikin Layak Dipertimbangkan Jabat Wamenpora
-
Program MBG Telah Dinikmati 3.000 Siswa di Luwu Timur
-
Langkah Politik Prabowo: Usul Amnesti Hasto dan Abolisi Tom Lembong ke DPR