Redaksi : Rabu, 31 Desember 2025 17:08

BUKAMATANEWS— Firma riset pasar IDC merilis proyeksi terbaru yang membuat industri teknologi was-was. Dalam skenario terburuk, pengapalan PC global pada 2026 diprediksi anjlok hingga 9%. Bahkan dalam skenario yang lebih moderat saja, penurunan masih diperkirakan mencapai 5%.

Angka tersebut direvisi turun dari laporan IDC sebelumnya pada November 2025 yang memperkirakan penurunan hanya 2,5%.

Salah satu penyebab utama revisi tersebut adalah kelangkaan memori global yang mulai terasa sejak pertengahan Oktober 2025. IDC menilai situasi ini bukan sekadar siklus naik-turun biasa, melainkan pergeseran struktural kapasitas produksi silikon yang dapat berlangsung bertahun-tahun.

Permintaan memori dari perusahaan hyperscaler melonjak tajam akibat kebutuhan infrastruktur AI. Alhasil, produsen memori mengalihkan produksi dari perangkat konsumen ke produk ber-margin tinggi seperti memori bandwidth tinggi dan DDR5. Secara ekonomi langkah ini masuk akal, tetapi efeknya memukul pasar perangkat konsumen.

Untuk smartphone, dampaknya terasa berbeda-beda. Biaya memori yang semakin mahal mendorong produsen mengambil langkah tidak populer: menaikkan harga, menurunkan spesifikasi, atau bahkan keduanya. IDC memperingatkan, tren peningkatan memori pada ponsel kelas menengah bisa berbalik arah.

IDC kini melihat risiko penurunan pasar smartphone global hingga 5% pada 2026 dalam skenario pesimistis, disertai siklus penggantian perangkat yang semakin panjang.

Namun pasar PC disebut sebagai sektor yang paling terpukul.

Kekurangan memori terjadi berbarengan dengan dua momentum besar industri: berakhirnya dukungan Windows 10 dan dorongan besar menuju PC berbasis AI. Biaya DRAM dan SSD meningkat, dan vendor sudah memberi sinyal kenaikan harga. IDC memperkirakan harga jual rata-rata PC dapat naik 6–8% dalam skenario terburuk.

Pada saat yang sama, pengiriman unit PC diperkirakan bisa jatuh hampir 9% dari tahun ke tahun. Ini jauh lebih buruk dibanding prediksi sebelumnya yang hanya turun 2,4%.

Perusahaan besar seperti Dell, HP, Lenovo, dan ASUS diperkirakan masih bisa bertahan berkat skala produksi dan kontrak pasokan jangka panjang. Sebaliknya, merek kecil dan perakit PC gaming justru paling rentan karena kebutuhan memori tinggi dan margin ketat.

Ironinya, tren PC AI justru memperburuk keadaan. Sistem AI membutuhkan RAM lebih besar, minimal 16GB sesuai standar Copilot+ Microsoft, bahkan banyak model premium menargetkan 32GB. Sayangnya, memori kini menjadi komponen langka dan mahal.

Dengan kondisi ini, vendor dihadapkan pada situasi sulit: mendorong PC AI ke pasar, namun biaya produksinya semakin tinggi.

IDC mencatat, penurunan 9% memang bukan yang terburuk dalam sejarah. Pada 2009 pasar PC sempat turun 11,9%, dan pada era pasca-pandemi penurunannya bahkan mendekati 15%. Namun yang membuat 2026 terasa semakin berat adalah seharusnya tahun itu menjadi masa kebangkitan pasar karena migrasi Windows 10 dan tren PC AI.

Sayangnya, kelangkaan memori membalikkan semua ekspektasi.

Sementara itu, 2025 sendiri sudah menjadi tahun menantang bagi industri PC. Kelangkaan GPU dan minimnya insentif upgrade membuat banyak konsumen menahan pembelian perangkat baru.

Dengan kombinasi harga lebih mahal, pasokan ketat, dan tekanan ekonomi global, pasar PC dan smartphone diperkirakan menghadapi tahun 2026 yang penuh ketidakpastian.

 

 

TAG

BERITA TERKAIT