Redaksi : Senin, 29 Desember 2025 21:57

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Di sebuah kamar kos sederhana di Makassar, suara tangis seorang bayi perempuan terdengar lirih menembus dinding kayu. Tangis itu yang membuat seorang pria akhirnya memberanikan diri masuk. Ia khawatir. Terlalu khawatir, bahkan. Sebab di dalam kamar yang terkunci dari luar itu, hanya ada seorang bayi — terbaring sendiri, dengan tubuh kecil berbalut popok.

"Sengaja ini masuk, melihat itu anak-anak yang sering ditinggalkan orang tuanya. Umurnya ini anak, umur 3 atau 4 bulan ini," kata pria yang merekam video tersebut

Video rekaman kejadian tersebut kemudian tersebar di media sosial. Warganet tersentak. Bagaimana mungkin seorang bayi masih sebesar itu sendirian di kamar kos?

Namun, seperti banyak kisah di dunia nyata, cerita ini tidak sesederhana yang terlihat di layar ponsel.

Hidup Dua Orang dalam Satu Ruang Kecil

Bayi perempuan itu kini berusia enam bulan. Sejak beberapa waktu lalu, ia tinggal hanya bersama ayahnya di kamar kos yang tak seberapa luas. Ibunya harus kembali ke Tana Toraja — sudah hampir sebulan lamanya.

Sang ayah bekerja malam di sebuah hotel. Jam kerjanya mulai pukul sepuluh malam hingga lima subuh. Bukan jam ideal bagi seorang orang tua tunggal, tapi hidup tidak selalu memberi pilihan yang adil.

Biasanya, sebelum berangkat kerja, bayi kecil itu dititipkan kepada ibu kos. Namun malam itu keadaan berbeda. Pintu rumah ibu kos sudah tertutup. Waktu kerja semakin dekat. Dalam kegelisahan dan keterbatasan, sang ayah akhirnya meninggalkan anaknya sebentar di dalam kamar. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap pulang sesekali, memastikan sang buah hati baik-baik saja.

Di titik inilah banyak orang lupa: kadang, orang tua bukan tidak peduli. Mereka hanya kalah oleh keadaan.

Ketukan di Pintu Pemerintah Kota

Video itu sampai juga ke telinga Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar. Ia tak menunggu lama. Ia datang langsung.

“Iya, tadi saya sudah mengunjunginya,” ujarnya pelan.

Ia memastikan satu hal terlebih dahulu: kondisi bayi itu sehat. Tidak kurang makan. Tidak kurang perhatian — paling tidak, dari orang-orang sekitar yang ikut peduli. Saat ini, bayi tersebut sementara diasuh oleh pemilik kos agar tidak lagi sendirian saat malam tiba.

Ita menegaskan, apa yang terjadi lebih layak disebut keterbatasan, bukan penelantaran.

Antara Cinta, Kebutuhan, dan Kenyataan

Di tengah hiruk-pikuk kota, cerita ini menyentuh sisi paling lembut dari siapa pun yang menontonnya. Ada seorang ayah yang mungkin tidak sempurna, tetapi berusaha keras agar hidup tetap berjalan. Ada seorang bayi kecil yang menjadi alasan ia bertahan.

Tidak ada orang tua yang ingin meninggalkan anaknya sendiri. Terkadang, dunia memaksa mereka memilih — antara bekerja atau tidak makan, antara ada di rumah atau kehilangan penghasilan.

Dan di antara semua perdebatan di kolom komentar, ada satu hal yang seharusnya tetap kita jaga: empati.

Karena Setiap Anak Berhak Dicintai

Kini, sang bayi sudah berada di tempat yang lebih aman pada malam hari. Para tetangga menjaga, pemerintah setempat memantau, dan sang ayah — tetap bekerja, tetap berusaha.

Kisah ini bukan untuk dihakimi. Melainkan untuk diingatkan, bahwa di balik kesederhanaan kamar kos kecil, ada perjuangan yang besar. Ada hati yang terus belajar menjadi orang tua. Dan ada bayi kecil yang, semoga, tetap tumbuh dikelilingi kasih — meski hidup tak selalu mudah.

TAG

BERITA TERKAIT