Dewi Yuliani : Selasa, 23 Desember 2025 10:29
Kolaborasi Tim Riset Berdikari Polipangkep dengan Dekranasda Provinsi Sulawesi Selatan berhasil menghilirisasi produk Zapa Emas menjadi wastra kain sutera dan batik elegan.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Di tengah kemeriahan forum riset nasional yang mempertemukan akademisi, peneliti, dan pengambil kebijakan, Repertoar Saintek 2025, selembar kain sutera bermotif aksara Lontara mencuri perhatian. Warnanya gelap, nyaris hitam, tampil sederhana namun kuat. Kain itulah yang kemudian menjadi pintu masuk cerita tentang bagaimana limbah pertanian bisa berubah menjadi inovasi bernilai ekonomi dan lingkungan.

Forum yang dilaksanakan akhir pekan lalu di Jakarta tersebut, dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto. Sejak awal, forum ini dirancang bukan sekadar sebagai ruang diskusi, tetapi sebagai panggung diseminasi hasil riset yang siap menjawab tantangan nyata masyarakat.

Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem saintek nasional melalui kemitraan multipihak, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Diskusi berlangsung dinamis. Pada sesi pertama, Prof. Anil Kumar Gupta, Prof. Ahmad Najib Burhani, dan Sudarto, Ph.D. memaparkan bagaimana riset seharusnya berpijak pada kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan. Diskusi ini dipandu Prof. Yudi Darma. Sementara sesi kedua menghadirkan Luthfi Adam, Ph.D., Prof. Evi Eliyanah, dan Bagus P. Muljadi, Ph.D. dengan moderator Audrey Chandra, yang menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor agar hasil riset tidak berhenti sebagai laporan ilmiah.

Diantara deretan gagasan besar itu, riset dari Sulsel tampil dengan narasi yang membumi. Melalui Program Katalisator Kemitraan Berdikari, tim peneliti mengangkat tema pewarnaan alam dari limbah pertanian. Fokusnya jelas, menjawab persoalan limbah sekaligus memperkuat produk unggulan daerah, yakni sutera dan batik.

Hasilnya bukan sekadar teori. Inovasi pewarnaan alam berbasis limbah ini terbukti meningkatkan nilai jual wastra Sulsel hingga 26 persen. Dampaknya juga terasa secara sosial, dengan melibatkan 18 keluarga perajin, 31 mahasiswa, serta 840 orang dari 23 komunitas dan organisasi. Riset hadir sebagai proses kolektif, bukan kerja segelintir orang di laboratorium.

Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep Prof. Dr. Mauli Kasmi, S.Pi., M.Pi. hadir langsung bersama Tim Riset Berdikari yang diketuai Dr. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP., MP., didampingi Muriyana, ST. Mereka membawa produk luaran riset berupa wastra Sulsel bermotif aksara Lontara dengan pewarnaan alam, yang dipamerkan dalam The Inclusive Innovation Repertoire 2025.

Momen penting terjadi saat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi mengunjungi Booth Zapa Emas. Prof. Brian Yuliarto tampak tertarik, lalu menarik selembar kain bermotif aksara Lontara dengan warna gelap.

"Kain ini merupakan hasil pewarnaan dari limbah sabut kelapa yang dikunci dengan fiksator tunjung, sehingga warnanya gelap mendekati hitam," jelas Ketua Tim Riset Dr. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka.

Riset tersebut berjudul fermentasi dan ekstraksi limbah pertanian menjadi zat pewarna alam pada kain sutera dan batik lontara Bugis. Bagi Prof. Brian, riset ini menunjukkan bagaimana sains dapat menghadirkan solusi konkret atas persoalan lingkungan sekaligus memperkuat nilai tambah produk lokal. Apresiasi pun diberikan sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap inovasi berbasis daerah.

Apresiasi ini menjadi energi baru bagi tim riset. Dr. Zulfitriany menyebut, pengakuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa wastra Sulawesi Selatan memiliki peluang besar menembus pasar global.

"Target kami ke depan adalah menghadirkan wastra Sulawesi Selatan yang memenuhi standar ecolabeling sesuai kebutuhan konsumen global. Inshaa Allah, hilirisasi riset ini akan diteruskan ke 24 kabupaten dan kota," ujarnya.

Langkah ini menjadi semakin strategis menjelang tahun 2026, ketika Sulsel dipercaya menjadi tuan rumah HUT Dewan Kerajinan Nasional Daerah. Sebanyak 38 provinsi akan hadir dari 100 lebih Kabupaten dan Kota, dan Sulsel dituntut tampil sebagai etalase wastra nusantara yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Dari limbah pertanian hingga kain bermotif aksara Lontara, riset ini bukan sekadar cerita tentang pewarna alam. Ia adalah kisah tentang kolaborasi, keberlanjutan, dan harapan bahwa sains mampu menjembatani tradisi lokal dengan tuntutan pasar global. (*)