Redaksi
Redaksi

Selasa, 09 Desember 2025 11:05

Dekan FISIP UPRI, Nuddin, S.Sos., M.Si, saat menjadi narsum pada workshop bertajuk “Belajar Budaya Tuli, Bahasa Isyarat & Praktik Inklusi di Café Tulus”,
Dekan FISIP UPRI, Nuddin, S.Sos., M.Si, saat menjadi narsum pada workshop bertajuk “Belajar Budaya Tuli, Bahasa Isyarat & Praktik Inklusi di Café Tulus”,

FISIP UPRI Dorong Ruang Publik Inklusif: Workshop Budaya Tuli & Bahasa Isyarat Hidupkan Praktik Nyata di Café Tulus

workshop ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya Pengabdian kepada Masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara kampus, pelaku usaha, dan komunitas Tuli menjadi kunci dalam memperluas pemahaman publik tentang inklusi.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pejuang Republik Indonesia (FISIP UPRI) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan ruang publik yang inklusif. Melalui workshop bertajuk “Belajar Budaya Tuli, Bahasa Isyarat & Praktik Inklusi di Café Tulus”, kampus ini mengajak masyarakat lebih dekat dengan budaya Tuli dan tantangan komunikasi yang masih sering dihadapi Teman Tuli.

Kegiatan yang berlangsung di Café Tulus, Makassar, ini berangkat dari masalah nyata: masih banyak pelanggan yang kesulitan berinteraksi dengan barista Tuli karena tidak memahami bahasa isyarat. Café Tulus dipilih karena telah lama menjadi contoh usaha yang memberdayakan komunitas Tuli, sekaligus menghadirkan praktik inklusi yang berjalan setiap hari.

Rektor UPRI, M. Darwis Nur Tinri, S.Sos., M.Si, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya berkutat pada ranah akademik. “Kegiatan seperti ini adalah bentuk kontribusi nyata kampus kepada masyarakat,” ujarnya. Ia juga memberikan apresiasi kepada Café Tulus yang konsisten menciptakan lingkungan kerja inklusif.

Dekan FISIP UPRI, Nuddin, S.Sos., M.Si, menambahkan bahwa workshop ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya Pengabdian kepada Masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antara kampus, pelaku usaha, dan komunitas Tuli menjadi kunci dalam memperluas pemahaman publik tentang inklusi.

Workshop ini juga menjadi ruang diseminasi hasil penelitian dosen FISIP UPRI, Husnul Hidayah, S.P., M.Si dan Janisa Pascawati, S.Sos., M.I.Kom, mengenai perancangan media komunikasi visual inklusif untuk mendukung interaksi antara barista Tuli dan pelanggan di Café Tulus. Media tersebut tidak hanya dipresentasikan secara konsep, tetapi juga diuji coba langsung oleh peserta di awal kegiatan.

Tiga narasumber utama hadir dalam sesi pemaparan, yakni Husnul Hidayah yang menjelaskan metode riset partisipatif dalam merancang media komunikasi inklusif; Zaenab, Owner Café Tulus yang membagikan perjalanan membangun bisnis ramah Tuli; dan Aswita, barista Tuli yang mengenalkan peserta pada Budaya Tuli serta Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Peserta tampak antusias saat mengikuti praktik alfabet BISINDO dan kalimat-kalimat dasar yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Keterlibatan aktif dalam sesi diskusi semakin menguatkan kesadaran bahwa komunikasi setara merupakan kebutuhan bersama.

Melalui workshop ini, FISIP UPRI berharap semakin banyak pihak yang memahami pentingnya inklusi dan menghargai budaya Tuli. Kampus juga berkomitmen terus menghadirkan kegiatan serupa sebagai langkah mendorong ruang publik yang lebih ramah, adil, dan inklusif bagi semua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#FISIP UPRI Makassar