Pemkot Makassar Sambut Positif Kejuaraan Nasional Pushbike di Makassar
02 April 2026 09:30
Bencana banjir besar di Sumatra mendapat sorotan media internasional. Reuters hingga The Guardian menyoroti korban yang terus bertambah, rusaknya hutan, serta cuaca ekstrem yang memperparah dampak banjir dan longsor di Indonesia.
BUKAMATANEWS - Bencana banjir dan longsor besar yang melanda Sumatra dalam sepekan terakhir kini menjadi perhatian luas media internasional. Sejumlah media asing seperti Reuters, AP, The Guardian, hingga Le Monde menempatkan tragedi ini sebagai headline karena tingginya angka korban dan dugaan kuat bahwa kerusakan lingkungan memperparah dampaknya.

Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas sudah menembus lebih dari 700 orang. Ratusan lainnya hilang, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi dari rumah mereka yang rusak atau tenggelam. Di berbagai daerah, permukiman tersapu arus, jembatan putus, dan akses jalan terisolasi.
Salah satu hal yang menjadi sorotan tajam media asing adalah banyaknya batang kayu yang ikut terbawa banjir dan menumpuk di kawasan terdampak. Temuan ini memunculkan kembali kritik lama soal deforestasi di Sumatra. Dalam laporan Reuters, warga menyebut “tangan-tangan nakal” telah merusak hutan dan memperlemah tanah, sehingga longsor dan banjir menjadi tak terhindarkan.
Organisasi lingkungan seperti WALHI dan JATAM ikut bersuara. Mereka menyoroti tumpang tindih izin tambang dan kebun sawit di kawasan hulu sungai yang disebut semakin meminggirkan area hutan. Aktivis meminta pemerintah segera meninjau ulang izin-izin tersebut dan memperketat pengawasan.
Di sisi lain, para ilmuwan iklim yang dikutip AP menilai banjir besar yang terjadi tahun ini bukan kejadian tunggal, tapi bagian dari pola cuaca ekstrem yang makin sering terjadi akibat perubahan iklim. Hujan deras yang dipicu sistem badai di Selat Malaka disebut menjadi faktor utama, namun lemahnya kondisi lingkungan memperparah skala bencana.
Media asing juga menyoroti kondisi pengungsi yang membutuhkan pasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Ribuan orang kini menempati tenda darurat yang tersebar di beberapa kabupaten. Relawan menyebut banyak lokasi belum tersentuh bantuan karena jembatan runtuh dan akses jalan masih terputus.
Pemerintah pusat menyatakan sedang mengerahkan bantuan logistik dan alat berat untuk membuka wilayah yang terisolasi. Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian korban yang hilang di beberapa titik banjir terdalam.
Sorotan internasional yang semakin besar membuat tragedi ini tidak hanya dipandang sebagai bencana alam, tetapi juga peringatan keras soal tata kelola lingkungan dan kesiapan menghadapi perubahan iklim. Bagi warga di lapangan, fokus utama tetap sama: menunggu bantuan tiba dan berharap hujan segera mereda.
02 April 2026 09:30
01 April 2026 20:32
02 April 2026 09:30