Isu Rp2 Miliar untuk Helikopter Dibantah, Pemprov Sulsel Siap Tempuh Jalur Hukum
02 April 2026 16:47
Wabi Sabi jadi tren baru di media sosial: merayakan keindahan dalam ketidaksempurnaan dan kesederhanaan sehari-hari — dari ruang rumah berantakan, tawa spontan, hingga kehidupan apa adanya
BUKAMATANEWS - Di dunia media sosial yang terus berkembang dengan estetika sempurna — feed rapi, warna lembut, pencahayaan terkurasi — muncul nafas baru: Wabi Sabi.

Tren ini mendadak viral di TikTok dan Instagram pada akhir 2025, membawa pesan sederhana tapi dalam: kecantikan itu bisa datang dari ketidaksempurnaan.
Asal muasal tren ini ternyata tak jauh dari referensi tak terduga: sebuah klip lawas dari serial animasi King of the Hill. Dalam cuplikan itu, karakter Bobby Hill memegang mawar yang agak miring dan santai berkata, “I like how mine’s a little off center. It’s got wabi-sabi.”
Sejak momen itu, pengguna TikTok mulai memakai audio tersebut untuk merayakan hal-hal “off-center” dalam kehidupan sehari-hari — kue bantat, rak miring, cat tembok retak, sofa yang penyok, atau bahkan tawa dan ekspresi wajah yang tidak “filter-perfect”.
Wabi Sabi bukan sekadar gaya visual. Dari filosofi Jepang kuno, istilah ini mencerminkan penghargaan terhadap ketidaksempurnaan, kefanaan, dan keunikan. “Wabi” melambangkan kesederhanaan dan kerendahan, sedangkan “sabi” mengacu pada keindahan dalam penuaan dan perubahan waktu — seperti retaknya vas keramik, patina pada kayu, atau bekas pelepasan lukisan tua.
Di era 2025, Wabi Sabi meresap jauh ke dalam kehidupan digital, dan memberikan alternatif bagi generasi muda yang mulai lelah dengan standar “sempurna” yang tak realistis.
Tren ini memungkinkan orang untuk berbagi momen autentik — rumah berantakan, meja kerja acak, kue yang gagal, dekorasi jadul, atau foto tanpa filter — dan justru mendapatkan apresiasi. Konten yang dulu dianggap “asal-asalan” kini mendapat sorotan positif karena terasa lebih manusiawi dan nyata.
Bagi banyak pengguna, Wabi Sabi membuka ruang untuk vulnerabilitas, kejujuran, dan koneksi emosional. Daripada menampilkan kehidupan ideal, trend ini memberi izin kepada orang untuk bilang: “Ini aku, dengan semua kekuranganku.” Dan audiens — terutama generasi Z dan dewasa muda — merespon dengan antusiasme yang besar.
Tidak hanya soal tampilan sehari-hari. Wabi Sabi kini merambah ke gaya hidup, dekorasi rumah, bahkan cara berpikir. Banyak yang mulai memilih furniture bekas dengan tekstur alami, keramik tangan dengan bentuk tak sempurna, atau sudut rumah dengan dekorasi seadanya — bukan karena kurangnya pilihan, tapi untuk merayakan karakter, sejarah, dan keunikan benda itu sendiri.
Dalam dunia di mana algoritma sering mendorong kesempurnaan — kulit halus, ruang rapi, estetika tersistem — Wabi Sabi hadir sebagai pengingat: bahwa kehidupan nyata itu berantakan, rumit, kadang kacau. Tapi dari detik-detik sederhana dan imperfeksi itulah, justru banyak keindahan muncul.
Dan kini, banyak dari kita mulai setuju: tidak semua keindahan harus sempurna. Kadang, yang paling menyentuh justru yang paling nyata.
02 April 2026 16:47
02 April 2026 16:03
02 April 2026 15:57
02 April 2026 15:15
02 April 2026 14:22
02 April 2026 11:56
02 April 2026 09:30
02 April 2026 11:10
02 April 2026 11:25