MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) menarik perhatian pengunjung Ekspo Kreatif Andalan 2025, saat menampilkan Tarian Riringgo dan Dero. Apalagi tarian tersebut dibawakan langsung Ketua Dekranasda Luwu Timur, Ani Nurbani Irwan.
Tarian Riringgo dan Dero merupakan dua tarian yang berasal dari Luwu Timur. Tari Riringgo dari Suku Padoe, sebagai syukur panen dan kemenangan dengan gerakan dinamis khas "rintangan". Sementara Dero dari Suku Pamona, adalah tarian sukacita massal melingkar saling bergandengan tangan, mengekspresikan kebahagiaan dan ungkapan syukur panen atau acara adat. Keduanya menunjukkan kebersamaan dan kekayaan budaya Sulawesi yang masih lestari.
Tari Riringgo dari Suku Padoe
Dilansir dari Wikipedia, Tari Riringgo adalah tari rakyat yang dilestarikan Suku Padoe. Tarian syukuran ini sering dilaksanakan setelah selesai melaksanakan panen.
Suku Padoe adalah suku yang berdiam di Kabupaten Luwu Timur, tersebar di Kecamatan Wasuponda, Towuti, Mangkutana, dan Nuha. Populasi Suku Padoe diperkirakan sekitar 18.000 orang.
Suku Padoe mendiami daerah ini diperkirakan sejak abad ke XIV yang bermigrasi dari daerah Sulawesi Tengah. Dalam bahasa setempat, istilah Padoe berarti orang jauh. Di Luwu Timur, mereka menjadi bagian dari dua belas anak suku di bawah pemerintahan Kedatuan Luwu.
Dari cerita rakyat, Suku Padoe ini berasal dari suku Lili To Padoe Bangkano Kalende, yang terbagi menjadi empat suku yaitu Padoe, Lasaelawali, Kinadu dan Konde.
Dalam melaksanakan tarian Riringgo ini, agar memberikan kemeriahan pesta panen biasanya dipersiapkan tidak kurang dari 1.000 bambu pewong disiapkan untuk dikonsumsi bersama sambil menikmati suguhan Moriringgo, tarian adat suku Padoe, biasanya dibawakan oleh anak-anak muda di daerah setempat.
Tari Dero dari Suku Pamona
Tari Dero adalah sebuah tarian yang dilakukan lebih dari satu orang atau dilakukan secara bersama-sama, yang melambangkan sukacita atau kebahagiaan serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Tarian ini sebenarnya berasal dari Suku Pamona, Sulawesi Tengah, yang sekarang banyak mendiami Kabupaten Luwu Timur.
Bagi masyarakat Suku Pamona, tarian ini dilakukan sebagai bagian dari pesta adat, upacara adat, pesta panen raya, ungkapan rasa syukur, dan kebahagiaan masyarakat kepada Tuhan atas semua hal yang telah diberikan kepada mereka. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, masyarakat Suku Pamona juga menganggap bahwa tarian Dero merupakan wujud kerukunan dan persahabatan serta sebagai kesempatan untuk mencari pasangan hidup.
Tarian ini juga dianggap sebagai pemersatu masyarakat Suku Pamona karena dalam tarian ini semua orang dari berbagai latar belakang baik miskin maupun kaya adalah sama. Pada gerakan tarian Dero, semua orang harus saling berpegangan tangan dan bergoyang.
(*)
BERITA TERKAIT
-
Dekatkan Pelayanan Kesehatan ke Masyarakat, Bupati Luwu Timur Datangkan Dokter Spesialis ke Wilayah Terpencil
-
Sosialisasi PSN di Desa Harapan, Terungkap Oknum yang Minta Rp1,3 Triliun ke Pemda Luwu Timur Pernah Terpidana Kasus Pengrusakan Tanaman
-
Satu-satunya Kabupaten di Sulsel dengan Cakupan Paripurna, Pemkab Luwu Timur Raih Penghargaan UHC Awards Kategori Utama
-
Demonstran Blokade Jalan Trans Sulawesi, Bupati Luwu Timur Siapkan Jalur Alternatif untuk Distribusi BBM dan Elpiji
-
Besok, Pemkab Luwu Timur Gelar Sosialisasi PSN Kawasan Industri IHIP