MAKASSAR,BUKAMATANEWS — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, melontarkan kritik tajam terhadap watak otoriter yang menurutnya muncul kembali dalam pemilu 2024.
Dalam orasinya di kegiatan Konferda PPIP Sulsel di Makassar,24 November 2925, ia mengaitkan kondisi terkini dengan sejarah kelam peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli), menyoroti bagaimana Megawati dan kader PDIP dulu menghadapi rezim kuat dengan semangat demokrasi dan perjuangan “revolusi sunyi”.
Hasto menyatakan bahwa semangat arus bawah dari Kudatuli adalah pelajaran penting.
“Kekuasaan setebal apapun temboknya, suara rakyat tidak bisa dibungkam.”
Ia mengajak para kader untuk meneguhkan kembali nilai-nilai ideologis serta keberpihakan pada rakyat tertindas — meski menghadapi risiko besar.
Menurutnya, di pemilu 2024 muncul watak otoritarian yang dibungkus dengan retorika populis. Ia mengkritik bagaimana kekuasaan dipertahankan dengan cara-cara yang menurutnya membahayakan demokrasi.
Hasto menekankan bahwa berpolitik bukan untuk menikmati kekuasaan.
“Ini perjuangan. Kalau menghadapi ancaman — meskipun itu penjara — itu bagian dari proses belajar Bung Karno bahwa penjara tak bisa mematikan cita-cita.” Ungkapnya berapi -api.
Pernyataan ini mengingatkan kembali bagaimana Megawati, lebih dari dua dekade lalu, menghadapi tekanan otoriter dengan membangun jaringan dari akar rumput (korcam) sebagai “revolusi sunyi”.
Di hadapan para pendukung, Hasto mengobarkan “api perjuangan”: kokoh pada ideologi, membela rakyat, dan siap menanggung konsekuensi apapun demi cita-cita demokrasi sejati.
Ia menyebut langkah tersebut tidak hanya simbolis, tetapi tindakan nyata untuk menjaga warisan demokratik Bung Karno dan Megawati.
Hasto juga menegaskan bahwa peristiwa Kudatuli bukan sekadar tragedi masa lalu. Bagi dia, momen itu adalah “ekstra ordinary crime” dan pelanggaran HAM berat.
Menurutnya, kejadian tersebut merupakan pengingat bahwa rezim otoriter bisa melancarkan serangan sistemik — tetapi kegigihan rakyat arus bawah tetap menjadi kekuatan.
Ia mengajak kader PDIP untuk meneruskan perjuangan damai, memperkuat organisasi dari akar, dan memperdalam pendidikan ideologi agar generasi baru tetap setia pada misi demokrasi. Dalam pandangan Hasto, revolusi sejati bukan hanya soal pergantian kekuasaan, tetapi perubahan budaya politik, dari dominasi otoriter menuju kedaulatan rakyat.