BMKG Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Musim Hujan
Berdasarkan prediksi klimatologi, curah hujan rata-rata bulanan akan berangsur-angsur mengalami kenaikan. Hal itu dicirikan oleh jumlah hari hujan yang meningkat. Hal itu terjadi pada masa transisi atau peralihan antara musim kemarau dengan hujan.
JAKARTA, BUKAMATANEWS - Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan di masa peralihan musim. Karena, Indonesia saat ini telah memasuki musim hujan.
"Musim hujan mulai relatif tidak serentak. Namanya alam ya (kondisi cuaca tidak menentu)," kata Dwikorita, Minggu, 2 November 2025.
Berdasarkan prediksi klimatologi, ia memprediksi, curah hujan rata-rata bulanan akan berangsur-angsur mengalami kenaikan. "Jadi secara rata-rata bulanan cirinya hujan akan lebih tinggi, intensitasnya semakin tinggi," ucap Dwikorita.
Dwikorita menjelaskan, hal itu dicirikan oleh jumlah hari hujan yang meningkat. Hal itu, terjadi pada masa transisi atau peralihan antara musim kemarau dengan hujan.
"Itu sering terjadi hujannya sore hari sampai malam hari. Jadi mulai pagi matahari terbit, mulai berproses terjadinya penguapan air sungai, danau dan laut," ujar Dwikorita.
Dwikorita pun menyoroti, wilayah Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan. Hal itu, berbeda dengan wilayah benua seperti negara-negara bagian Eropa.
"Itu kompleksitasnya tidak sekomplek dengan wilayah kepulauan. Antara dua samudera yang besar dan dua benua," kata Dwikorita.
Ia menjelaskan, musim hujan saat ini dipengaruhi oleh angin yang bertiup dari arah benua Asia. Sehingga, wilayah-wilayah Indonesia yang lebih dekat ke arah benua Asia.
"Itu akan mendapatkan pengaruh lebih awal. Daripada wilayah-wilayah yang berada di wilayah Selatan dan Timur," ucap Dwikorita.
Sedangkan musim kemarau yang lalu, menurutnya, lebih dipengaruhi oleh angin yang berasal dari Australia. "Jadi saat ini sebagian masih musim kemarau, terutama di wilayah Selatan dan dekat dengan Australia," katanya.
Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menjelaskan, suhu muka laut di samudra pasifik menunjukkan melewati ambang Batas La-Nina.
Dalam dua bulan terakhir telah terjadi pendinginan di samudra pasifik. Yaitu, pada September 2025, anomali suhu muka laut di pasifik tengah dan timur sebesar -0.54. Dan pada Oktober sebesar -0.61. Sementara kondisi atmosfer juga menunjukkan adanya penguatan angin timuran.
"La Nina lemah diprediksi tidak memberikan dampak yang signifikan pada curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Dengan kondisi curah hujan pada November-Desember 2025 dan Januari-Februari 2026 diprediksi tetap pada kategori normal," ujar Guswanto. (*)
News Feed
Gubernur Sulsel Resmikan Jembatan Sungai Balampangi Penghubung Sinjai - Bulukumba
31 Januari 2026 21:37
