Redaksi : Kamis, 16 Oktober 2025 10:25

BUKAMATANEWS - Situasi di Jalur Gaza masih menjadi perhatian internasional di tengah upaya pemulihan setelah serangkaian konflik berkepanjangan. Meskipun kesepakatan gencatan senjata fase pertama antara Israel dan Hamas telah berlaku selama sepekan, akses bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza dilaporkan masih jauh dari memadai dan terhambat oleh pembatasan yang diterapkan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza dilaporkan masih rendah, jauh di bawah angka yang disepakati. Program Pangan Dunia (WFP) mencatat hanya sekitar 137 truk bantuan yang berhasil masuk sejak hari pertama gencatan senjata. Angka ini bertolak belakang dengan rencana perdamaian yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang seharusnya memungkinkan masuknya bantuan dalam jumlah lebih besar.

Israel secara resmi telah menyampaikan kepada PBB bahwa mereka hanya akan mengizinkan maksimal 300 truk per hari untuk masuk ke Gaza. Pembatasan ini adalah setengah dari jumlah yang disepakati dalam rencana damai dan sangat dikhawatirkan akan memperparah kondisi warga Gaza yang saat ini berada dalam kondisi kelaparan atau hampir kelaparan.

Pembukaan akses bantuan tampak erat kaitannya dengan proses pengembalian jenazah sandera. Pemerintah Israel sempat mengancam akan memberlakukan sanksi berupa pembatasan hingga penutupan total akses bantuan jika Hamas tidak mempercepat pengembalian 28 jenazah sandera yang masih ditawan di Gaza. Ancaman sanksi tersebut kemudian dibatalkan setelah Hamas menyerahkan empat jenazah sandera tambahan pada Selasa (14/10) malam, sehingga total delapan dari 28 jenazah telah dikembalikan ke Israel. Lembaga militer Israel, COGAT, kemudian memperkirakan bahwa 600 truk bantuan akan diizinkan masuk setiap hari selama masa gencatan senjata berlangsung, meskipun kenyataannya di lapangan jumlah yang masuk masih minim.

Di tengah negosiasi fase kedua gencatan senjata yang fokus pada transisi pemerintahan baru dan pelucutan senjata, situasi di Gaza tetap rapuh dan penuh ketidakpastian. Warga Palestina masih menanti komitmen penuh Israel untuk membuka akses bantuan kemanusiaan secara total. Beberapa laporan juga menuduh Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pada Rabu (15/10), saksi mata melaporkan tank-tank Israel menembaki warga di daerah Bani Suheila dan Sheikh Nasser, sebelah timur Khan Younis. Sebaliknya, Israel menuduh Hamas telah melanggar gencatan senjata karena masih ada jenazah sandera yang belum dikembalikan.

Bantuan yang telah masuk, sebagian besar membawa tepung dan pasokan kemanusiaan penting, diharapkan dapat menopang kebutuhan warga Palestina selama tiga bulan ke depan. Namun, dengan jumlah truk yang masih jauh dari target, komunitas internasional terus menekankan pentingnya akses bantuan secara penuh dan berkelanjutan untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar di Jalur Gaza.

Ida Nur Faizah

TAG