Dewi Yuliani : Minggu, 27 Juli 2025 22:37
Ilustrasi

JAKARTA, BUKAMATANEWS - Tekanan ekonomi mengakibatkan daya beli masyarakat saat ini mengalami penurunan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja, mengakui hal tersebut, meski saat ini pengunjung mal meningkat.

"Daya beli masyarakat kelas menengah bawah sedang tertekan. Mereka tetap datang ke mal, namun hanya membeli barang harga murah, bahkan cenderung tidak melakukan perbelanjaan," kata Alphonsus, Minggu, 27 Juli 2025.

Ia mengatakan, banyak pengunjung hanya datang untuk bersantai atau menikmati fasilitas gratis. "Pusat perbelanjaan kini bukan sekadar tempat belanja, tapi juga hiburan, edukasi, dan sosial," ujarnya.

Alphonsus menjelaskan, fenomena Rombongan Jarang Beli (Rojali) dan Rombongan Hanya Nanya-Nanya (Rohana) bukanlah hal baru. Istilah itu kembali mencuat karena daya beli masyarakat terus melemah.

Fenomena Rojali dan Rohana, kata dia, terjadi karena fungsi sosial mal makin dibutuhkan pascapandemi. "Interaksi langsung kini menjadi kebutuhan konsumen, bukan sekadar hanya belanja saja," ucapnya.

Sementara itu, ia menyebut kelas menengah atas juga mengubah perilaku konsumsi. Ia mengatakan bahwa penyebabnya bukan semata soal uang, melainkan dipengaruhi faktor global seperti nilai tukar dan tarif.

Alphonsus menjelaskan, tren penurunan belanja terjadi di semua sektor usaha di mal, bukan hanya fashion. Ia menambahkan bahwa sektor makanan dan minuman juga terdampak, karena frekuensi pembelian menjadi lebih jarang.

Ia menyebut mal yang hanya fokus pada fungsi belanja akan semakin sepi pengunjung. "Yang bertahan adalah mal yang penuhi kebutuhan sosial masyarakat," imbuhnya. (*)

 

BERITA TERKAIT