Redaksi : Selasa, 22 Juli 2025 20:22
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Terminal Daya, Senin (22/7), untuk melihat langsung kondisi terkini terminal sekaligus menyusun langkah strategis dalam menata ulang fungsinya sebagai simpul transportasi terpadu yang tertib dan produktif.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Terminal Daya, Senin (22/7), untuk melihat langsung kondisi terkini terminal sekaligus menyusun langkah strategis dalam menata ulang fungsinya sebagai simpul transportasi terpadu yang tertib dan produktif.

Dalam kunjungannya, Wali Kota yang akrab disapa Appi itu menilai Terminal Daya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi terminal modern, jika didukung sinergi lintas instansi.

Letaknya sangat strategis, sangat memungkinkan untuk difungsikan secara optimal sebagai terminal utama. Tapi kita harus pahami, tidak semua kewenangan berada di tangan Pemkot,” ujarnya.

Appi menyebutkan akan segera melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah provinsi dan pusat, khususnya Kementerian Perhubungan, agar pengelolaan terminal dapat berjalan maksimal dan terintegrasi.

Masalah terbesar saat ini adalah menjamurnya terminal bayangan. Tanpa penegakan aturan yang tegas dan kolaborasi antarlembaga, penataan akan sulit berjalan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengembalikan aktivitas naik-turun penumpang ke dalam area terminal demi membangkitkan ekosistem ekonomi sekitar.

Kalau penumpang masuk terminal, otomatis UMKM akan bergerak. Ada transaksi, ada kehidupan ekonomi. Transportasi pun saling terhubung,” jelasnya.

Terminal Daya sendiri kini tengah bersiap menjalani proses penataan besar-besaran untuk menghidupkan kembali fungsinya sebagai pusat transportasi dan aktivitas ekonomi warga.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Terminal Makassar Metro, Elber Maqbul Amin, menegaskan bahwa langkah awal penataan dimulai dari penertiban operasional Perusahaan Otobus (PO) yang selama ini melakukan bongkar muat di luar terminal.

“Semua aktivitas PO harus kembali ke dalam terminal, layaknya bandara. Penumpang datang, menunggu, belanja, lalu naik kendaraan di area resmi. Ini akan menghidupkan kios-kios UMKM,” ujar Elber.

Ia mengungkapkan, setiap malam hingga pagi, sekitar 2.000–3.000 penumpang melintasi area terminal. Namun karena mayoritas aktivitas terjadi di luar terminal, tidak ada dampak ekonomi signifikan terhadap pelaku usaha kecil di dalamnya.

“Kalau semua masuk, pasti mereka beli makanan, minuman, ke toilet, dan belanja kecil-kecilan. Itulah yang akan memutar ekonomi di terminal,” tambahnya.

Elber juga menyinggung tantangan regulasi sebagai kendala utama. Sebab, sebagian besar aturan operasional PO dan perizinan berada di bawah kewenangan Kementerian Perhubungan melalui balai teknis.

“Kami hanya pelaksana di lapangan. Karena itu kami sangat membutuhkan dukungan pemerintah kota dan koordinasi dengan balai. Ini yang sedang diupayakan Pak Wali Kota untuk dijembatani,” jelasnya.

Dengan luas lahan yang memadai, Terminal Daya dinilai sangat potensial untuk menampung armada PO, kendaraan lokal seperti pete-pete, ojek, dan transportasi daring—menuju konsep terminal modern yang terintegrasi.

Dari sisi pendapatan, Elber menyebut bahwa saat ini terminal mencatat pemasukan harian antara Rp8 hingga Rp9 juta, yang sebagian besar berasal dari retribusi penumpang dan tarif masuk kendaraan PO. Namun, capaian dividen tahunan masih jauh dari target.

“Target dividen kami sebelumnya Rp300–Rp400 juta per tahun, tapi sampai saat ini belum terealisasi karena pendapatan belum optimal. Jika semua PO tertib masuk terminal dan skema terpadu berjalan, kami yakin potensi pendapatan akan meningkat signifikan,” tutupnya.

Pemkot Makassar berharap, dengan langkah strategis dan sinergi kebijakan, Terminal Daya dapat bangkit menjadi terminal andalan yang tidak hanya menjadi simpul transportasi, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi kerakyatan.