BUKAMATANEWS - Bank Indonesia Sulsel menyoroti ancaman krisis ekonomi akibat konflik Israel-Iran dan kebijakan global. Target pertumbuhan 8% dinilai sulit tercapai tanpa upaya luar biasa.
Hal ini disampaikan Kepala Deputi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Selatan, Wahyu Purnama, dalam sambutannya pada pelatihan wartawan di Hotel Novotel Malioboro, Yogyakarta, Selasa pagi (24/6/2025).
Menurut Wahyu, konflik global sebelumnya seperti perang Rusia-Ukraina saja telah mengakibatkan inflasi besar-besaran di banyak negara. Ia pun menegaskan, jika konflik Israel-Iran semakin meluas, khususnya jika bereskalasi ke perang nuklir, dampaknya terhadap ekonomi dunia bisa jauh lebih buruk.
“Kalau Iran sampai menutup Selat Hormuz — jalur vital pengiriman minyak global — bayangkan lonjakan harga minyak dunia, dan tentu saja, emas juga akan terdampak,” ungkap Wahyu.
Ia menambahkan, Indonesia tidak akan luput dari dampak tersebut karena sifat krisis yang berskala global. Bahkan, Provinsi Sulawesi Selatan pun diperkirakan turut terdampak lewat kenaikan inflasi.
“Karena ini global, tentu juga akan terasa di Indonesia, termasuk Sulsel. Inflasi akan tinggi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wahyu juga menyoroti berbagai tantangan ekonomi lain yang dihadapi Indonesia, termasuk kebijakan proteksionis Amerika Serikat di era Presiden Donald Trump yang memengaruhi tarif impor dan mempersulit laju perdagangan.
Ia mengingatkan, target ambisius pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga delapan persen pada masa pemerintahan Presiden Prabowo kemungkinan besar akan sulit tercapai jika gangguan eksternal terus berlanjut.
“Bagaimana mau delapan persen kalau gangguannya seperti ini,” tegasnya.
Dalam paparannya, Wahyu juga membahas tren perlambatan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan. Pada 2024, pertumbuhan ekonomi Sulsel tercatat sebesar 5,18 persen, turun signifikan dibanding periode 2011–2013 yang sempat menembus angka 8,3 persen.
“Kini pertumbuhannya stagnan di sekitar lima persen pasca pandemi. Dan untuk mencapai angka itu saja sudah sangat berat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa beberapa provinsi dengan industri ekstraktif seperti smelter nikel, tembaga, dan emas masih memiliki potensi akselerasi. Namun untuk daerah seperti Sulsel, dibutuhkan strategi dan dukungan kebijakan yang kuat agar bisa kembali tumbuh tinggi.
“Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi nasional delapan persen pada 2029, dibutuhkan perjuangan luar biasa,” tutup Wahyu.
BERITA TERKAIT
-
Di Tengah Ketidakpastian Global, Ekonomi Sulsel Tetap Terjaga dengan Pertumbuhan Tahunan 5,25 Persen
-
BI Perkuat Ketahanan Pangan, Panen Perdana Padi Gamagora 7 di Maros dengan Produktivitas Fantastis
-
BEKS 2025 BI Sulsel Resmi Ditutup, Berikut Hasilnya!
-
Jaga Kedaulatan Ekonomi, BI Sulsel Gandeng TNI AL Kirim Rupiah ke Wilayah 3T
-
QRIS Jelajah Budaya Indonesia, BI Sulsel Integrasikan Potensi Wisata dan Ekosistem Ekonomi Digital