JAKARTA, BUKAMATANEWS — Dalam rangka memperkuat kapasitas pelatih di era transformasi digital, Relawan TIK Indonesia melalui Akademi Relawan TIK (ARTIKA) sukses menggelar Kursus Pelatih Nasional secara daring, Sabtu (10/5). Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kursus ini menjadi ruang strategis pembekalan bagi para pelatih Relawan TIK agar mampu menjalankan perannya sebagai fasilitator pembelajaran yang adaptif, inklusif, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang.
Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, Hani Purnawanti, dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran pelatih sebagai penggerak perubahan, bukan sekadar penyampai materi. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua ARTIKA, Rinda Cahyana, S.T., M.T., yang menekankan bahwa pelatih adalah ujung tombak keberhasilan literasi digital di tingkat lokal.
Dipandu oleh moderator Andi Asy’hary J. A., M.I.Kom dari Pusdiklat ARTIKA, sesi pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber dari pengurus pusat RTIK dan ARTIKA. Dr. Lady Giroth, S.S., M.Si., M.Pd membuka sesi dengan materi bertema andragogi dan kolaborasi dalam pelatihan. Masruhan Mufid, S.Pd., M.Kom membawakan strategi pembelajaran daring yang mendorong partisipasi aktif masyarakat. Sementara Drs. Hamzah Fathoni, M.M membahas pentingnya membangun komunitas digital berbasis kearifan lokal dan inovasi. Kursus ditutup dengan pengenalan platform Learning Management System (LMS) belajar.relawantik.or.id oleh Muhammad Yunus, M.Kom.
Melalui kegiatan ini, Relawan TIK Indonesia menunjukkan komitmennya sebagai organisasi nasional yang tak hanya menyebarkan literasi digital, tetapi juga aktif mendampingi masyarakat dalam menavigasi tantangan dan peluang dunia digital.
Para pelatih dibekali dengan pendekatan kontekstual yang mengintegrasikan nilai budaya, kondisi sosial, dan karakter geografis di setiap daerah. Hal ini diyakini sebagai kunci agar program literasi digital tak sekadar hadir, tetapi juga hidup dan bermakna di tengah masyarakat.
“Meski kurikulum disusun secara nasional, implementasinya harus membumi. Pendekatan lokal tak bisa ditinggalkan,” tegas salah satu narasumber.
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, kursus ini diharapkan melahirkan pelatih-pelatih tangguh yang siap menjadi motor penggerak inklusi digital di seluruh penjuru negeri.