Redaksi : Sabtu, 03 Mei 2025 12:06

BUKAMATANEWS - Krisis ekonomi di Korea Utara kian memburuk. Di bawah rezim Kim Jong Un, warga kini harus membawa ransel penuh uang tunai hanya untuk membeli kebutuhan pokok seperti gula, minyak goreng, hingga daging babi.

Melansir laporan Radio Free Asia, Sabtu (3/5), lonjakan harga akibat inflasi ekstrem dan depresiasi nilai tukar won membuat harga-harga sembako melonjak tajam dalam dua tahun terakhir. Harga melonjak dua hingga lima kali lipat, membuat uang kertas bernilai kecil seperti 1.000 won kehilangan daya belinya.

“Harga pasar telah melonjak setidaknya dua kali lipat dan, dalam beberapa kasus, lebih dari lima kali lipat,” ujar seorang warga provinsi Yanggang yang identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.

Contoh ekstremnya, 1 kilogram minyak bunga matahari yang biasa digunakan untuk memasak kini seharga 75.000 won (naik hampir tiga kali lipat), gula menjadi 40.000 won (naik empat kali lipat), dan daging babi mencapai 87.000 won per kilogram.

Artinya, untuk membeli satu kilogram gula saja, warga harus membawa setumpuk 40 lembar uang kertas 1.000 won. Beberapa bahkan menggunakan tas ransel khusus untuk membawa uang, bukan untuk membawa barang belanjaan.

Kondisi Kelaparan Kian Parah

Korea Utara memang dikenal mengalami kekurangan pangan kronis, yang diperparah oleh panen buruk, minimnya pupuk dan alat pertanian, serta dampak ekonomi pasca-Covid-19. Program Pangan Dunia PBB menyebut lahan pertanian Korut tidak mencukupi untuk kebutuhan domestik.

Kelaparan ini bahkan memicu tindakan ekstrem. Laporan bulan lalu menyebutkan sejumlah tentara Korut terpaksa menjual perlengkapan militer untuk membeli makanan. Bahkan, sejak Agustus 2023, dilaporkan terjadi peningkatan kasus pembunuhan dan kekerasan akibat kelaparan.

 

TAG

BERITA TERKAIT