MAKASSAR,BUKAMATANEWS - Pemerintah Indonesia mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 104,2 triliun atau 0,45% dari Produk Domestik Bruto (PDB) hingga akhir Maret 2025. Untuk menutup defisit ini, pemerintah telah menarik utang baru senilai Rp 250 triliun, setara dengan 40,6% dari target pembiayaan utang tahun ini sebesar Rp 616,2 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi "front loading", yaitu menarik utang dalam jumlah besar di awal tahun untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar keuangan global.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, realisasi pembiayaan utang ini meningkat signifikan dari Rp 85,6 triliun menjadi Rp 250 triliun.
Rincian pembiayaan utang tersebut meliputi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp 270,4 triliun atau 34,8% dari pagu Rp 775,9 triliun, serta pembiayaan non-utang sebesar Rp 20,4 triliun
Pemerintah mengklaim akan terus mengelola utang secara hati-hati dan terukur, menjaga keseimbangan antara biaya dan risiko utang, serta memastikan peran APBN sebagai instrumen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.