Redaksi : Selasa, 15 April 2025 10:13

BUKAMATANEWS - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang semakin memanas kini mulai berdampak signifikan pada Jepang, mitra dagang utama kedua negara tersebut.

Kebijakan tarif tinggi yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump tidak hanya menargetkan China, tetapi juga menyeret Jepang ke dalam pusaran konflik perdagangan global ini.

Menurut survei Reuters, sembilan dari sepuluh pelaku usaha di Jepang memperkirakan bahwa kebijakan tarif AS akan berdampak negatif pada bisnis mereka. Kekhawatiran ini mencerminkan ketergantungan Jepang pada ekspor ke China dan AS, terutama di sektor manufaktur dan teknologi.

Perusahaan-perusahaan Jepang yang memiliki operasi di China dan bergantung pada perdagangan dengan Amerika Utara mengalami penurunan penjualan dan nilai saham akibat ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perang dagang ini.

Peringatan dari Pemerintah Jepang

Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menyatakan bahwa tarif yang diberlakukan oleh AS berpotensi mengganggu tatanan ekonomi global.

Ia menekankan pentingnya memahami alasan di balik kebijakan perdagangan Trump dan menyatakan kesiapan Jepang untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mengurangi dampak negatifnya.

Sektor teknologi Jepang, khususnya industri semikonduktor, juga merasakan dampak dari perang dagang ini.

AS telah menggunakan taktik yang dianggap sebagai upaya untuk menekan industri semikonduktor Jepang, yang kini menghadapi tekanan serupa dengan yang dialami oleh China.

Jepang, sebagai sekutu dekat AS dan mitra dagang utama China, kini berada di posisi sulit akibat perang dagang yang berkepanjangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Dampak negatif pada sektor manufaktur, teknologi, dan keuangan menunjukkan perlunya strategi baru bagi Jepang untuk mengurangi ketergantungan pada kedua negara tersebut dan menjaga stabilitas ekonominya di tengah ketidakpastian global.

 

TAG

BERITA TERKAIT