BUKAMATANEWS — Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi memberlakukan tarif baru terhadap puluhan negara mulai hari ini (9/4), termasuk bea masuk besar hingga 104% pada berbagai produk asal China.
Langkah ini memperuncing tensi perdagangan global dan memicu kekhawatiran terjadinya resesi baru.
Kebijakan tersebut menargetkan negara-negara yang disebut Trump "merugikan ekonomi Amerika", termasuk sekutu dekat seperti Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa.
Indeks saham global pun merespons negatif. Indeks S&P 500 telah kehilangan kapitalisasi pasar hampir US$ 6 triliun dalam empat hari terakhir, mendekati kondisi pasar bearish.
Di Asia, pasar saham terus terkoreksi. Indeks Nikkei Jepang turun lebih dari 3%, sementara nilai tukar won Korea Selatan jatuh ke level terendah dalam 16 tahun terakhir.
Sinyal ketidakpastian juga muncul dari pasar berjangka AS yang melanjutkan tren penurunan.
Trump menyatakan bahwa kebijakan tarif ini bersifat permanen, namun di sisi lain juga membuka ruang negosiasi dengan berbagai negara.
"Banyak negara ingin berdialog dan mencapai kesepakatan," katanya di Gedung Putih.
Pemerintah AS dijadwalkan menggelar pertemuan dagang dengan Korea Selatan, Jepang, Italia, serta Vietnam, negara yang selama ini menjadi basis manufaktur utama Asia.
China sendiri telah memperingatkan akan mengambil langkah balasan. Bahkan, sejumlah perusahaan pialang di China dilaporkan diminta membantu menstabilkan pasar saham dalam negeri.
Kebijakan tarif ini juga dikhawatirkan akan membebani konsumen AS. Harga berbagai produk impor seperti sepatu, anggur, hingga elektronik diperkirakan naik.
Meski dampak langsung tidak dirasakan seketika, barang yang telah dikapalkan sebelum 9 April dan tiba di AS sebelum 27 Mei masih dibebaskan dari tarif baru.
Trump juga mengisyaratkan potensi perluasan tarif ke sektor farmasi, yang sebelumnya dikecualikan. Ini menunjukkan bahwa eskalasi kebijakan perdagangan masih belum akan berhenti dalam waktu dekat.