Redaksi
Redaksi

Minggu, 09 Maret 2025 14:49

Negara Kaya Raya Ini Bangkrut karena Polisinya  Hidup Mewah

Negara Kaya Raya Ini Bangkrut karena Polisinya Hidup Mewah

Nauru, negara kecil di Pasifik, pernah menjadi salah satu negara terkaya di dunia berkat fosfat. Namun, gaya hidup mewah pejabat dan polisi, serta pengelolaan ekonomi yang buruk, membuatnya bangkrut. Simak kisah lengkapnya di sini.

BUKAMATA - Tahukah Anda bahwa ada negara di dunia yang mengalami kebangkrutan akibat gaya hidup mewah para pejabatnya, termasuk kepolisian? Hal ini nyata terjadi di Nauru, sebuah negara kecil di Samudra Pasifik yang kini tinggal kenangan dari masa kejayaannya.

Nauru terkenal dengan keindahan terumbu karang dan pantai berpasir putihnya. Namun, di balik keindahan tersebut, negara ini memiliki sejarah kelam akibat eksploitasi sumber daya alam. Selama bertahun-tahun, ekonomi Nauru bergantung pada fosfat, mineral berharga yang ditemukan oleh perusahaan Inggris pada awal 1900-an.

Penambangan fosfat dimulai pada 1907, dengan pemerintah Inggris, Australia, dan Selandia Baru mengambil keuntungan besar dari sumber daya tersebut sepanjang abad ke-20. Setelah memperoleh kemerdekaan pada 1968, Nauru mengambil alih tambang fosfatnya sendiri dan mengalami lonjakan ekonomi pesat.

Pada 1982, laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa Nauru memiliki "pendapatan per kapita yang melampaui negara-negara Arab penghasil minyak", menjadikannya salah satu negara terkaya di dunia pada saat itu.

Gaya Hidup Mewah yang Tak Terkendali

Kekayaan yang tiba-tiba membuat para pejabat negara, termasuk kepolisian, menjalani gaya hidup yang tidak masuk akal. Salah satu kisah yang mencengangkan adalah seorang kepala polisi yang membeli Lamborghini, meskipun ia tidak bisa duduk dengan nyaman di dalamnya. Mobil-mobil super mewah seperti Ferrari juga diimpor, meskipun Nauru hanya memiliki satu jalan beraspal dengan batas kecepatan 25 mph.

Meski hanya sedikit warga yang menikmati kekayaan ini secara langsung, pemerintah Nauru saat itu menyediakan layanan publik gratis, termasuk pendidikan, perawatan medis, dan transportasi. Jika pengobatan tidak tersedia di dalam negeri, warga Nauru diterbangkan ke Australia dengan biaya negara.

Keruntuhan Ekonomi dan Kasus Pencucian Uang

Sayangnya, sumber daya fosfat mulai habis pada 1990-an, dan dengan itu, ekonomi Nauru pun runtuh. Kebijakan pengeluaran besar-besaran pemerintah tidak disertai perencanaan jangka panjang, membuat negara itu berada di ambang kebangkrutan.

Mencari cara lain untuk bertahan, Nauru kemudian berubah menjadi surga pajak dengan menjual lisensi perbankan dan paspor. Pada satu titik, sekitar 55 miliar pound (Rp1.127 triliun) uang mafia Rusia mengalir melalui bank-bank Nauru dalam satu tahun. Akibatnya, pada 2002, Departemen Keuangan Amerika Serikat menetapkan Nauru sebagai negara pencucian uang.

Australia akhirnya turun tangan dengan memberikan bantuan keuangan kepada Nauru. Sebagai imbalannya, negara kecil itu menjadi tuan rumah bagi pusat penampungan pencari suaka yang hendak menuju Australia.

Obesitas dan Kebiasaan Merokok Tinggi

Dampak dari kemunduran ekonomi juga memengaruhi pola hidup masyarakat. Nauru kini menjadi negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia. Menurut Federasi Obesitas Dunia, sekitar 70% penduduknya mengalami obesitas. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap makanan bergizi dan kecintaan terhadap makanan olahan seperti Spam.

Selain itu, tingkat merokok di Nauru juga sangat tinggi. Data dari MacroTrends pada 2020 mencatat bahwa sekitar 48,5% penduduknya adalah perokok.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Berita Populer