Peringati Hari Lingkungan Hidup, PJM Tanam 2.500 Pohon di Tanralili Maros
20 Juni 2026 23:47
BMKG memperingatkan cuaca ekstrem berpotensi terjadi hingga akhir Maret 2025. Meski demikian, modifikasi cuaca dan peringatan dini telah disiapkan untuk mitigasi dampaknya.
BUKAMATA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga akhir Maret 2025. Meski demikian, BMKG memastikan bahwa kondisi ini dapat dideteksi lebih awal sehingga langkah mitigasi dan peringatan dini bisa dilakukan.

"Insya Allah lebih baik, kemungkinan ada cuaca ekstrem tetapi durasinya singkat. Namun, kami telah menyiapkan modifikasi cuaca," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor Kementerian PMK, Rabu (5/3/2025).
Periode Transisi Menuju Kemarau
Dwikorita menjelaskan bahwa Maret hingga awal April merupakan masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Oleh karena itu, meskipun intensitas hujan diperkirakan mulai berkurang, potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir masih bisa terjadi di beberapa wilayah.
"Cuaca ekstrem masih bisa terjadi hingga akhir Maret. Transisi ke musim kemarau biasanya berlangsung sejak awal April. Jadi, insya Allah kondisi lebih baik," tambahnya.
Antisipasi dan Modifikasi Cuaca
Untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem, BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan teknologi modifikasi cuaca guna mengendalikan curah hujan yang berlebihan di wilayah rawan banjir.
"Seandainya terdeteksi, cuaca ekstrem bisa diprediksi lebih awal. Dengan begitu, langkah antisipasi dan peringatan dini bisa segera dilakukan," lanjut Dwikorita.
Sebelumnya, beberapa daerah di Sulawesi Selatan dilaporkan mengalami banjir akibat tingginya curah hujan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan hujan lebat yang masih bisa terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.
20 Juni 2026 23:47
20 Juni 2026 23:39