BUKAMATA – Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik yang membuatnya rawan gempa bumi dan tsunami. Salah satu jenis gempa paling berbahaya adalah gempa megathrust, yang berpotensi memicu tsunami raksasa dengan gelombang setinggi lebih dari 20 meter.
Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, saat ini ada 13 segmen megathrust di Indonesia yang berpotensi menyebabkan gempa besar, termasuk di Selat Sunda, Mentawai-Siberut, dan Jawa Barat-Jawa Tengah.
Ciri-Ciri
BMKG mengidentifikasi beberapa tanda gempa yang berisiko menyebabkan tsunami:
1. Berasal dari zona subduksi (megathrust), terjadi akibat pergerakan lempeng di dasar laut.
2. Berkekuatan lebih dari M7, semakin besar magnitudo, semakin tinggi risiko tsunami.
3. Guncangan berlangsung lebih dari 20 detik, jika terjadi lebih dari ini, segera evakuasi ke tempat lebih tinggi.
4. Disertai peringatan dini tsunami dari BMKG, waktu tiba tsunami di pantai bisa berkisar 20-30 menit setelah gempa.
Wilayah yang Berisiko
BMKG memetakan beberapa wilayah yang paling berisiko terdampak tsunami megathrust, di antaranya:
- Megathrust Selat Sunda, berpotensi menyebabkan tsunami hingga 20 meter, berdampak ke Banten, Lampung, Jakarta, dan Jawa Barat.
- Megathrust Mentawai-Siberut, diprediksi bisa memicu gempa M8,9 dan tsunami besar yang berdampak ke Sumatra Barat, Riau, dan Bengkulu.
- Megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah, bisa menyebabkan gempa M8,7 dengan potensi tsunami besar.
Cara Selamat
Ahli geologi C. Prasetyadi mengingatkan bahwa masyarakat di zona rawan tsunami harus menerapkan Prinsip Triple 20 saat terjadi gempa.
"Pertama Jika gempa berlangsung lebih dari 20 detik, segera bersiap evakuasi,"katanya.
Kedua punya waktu sekitar 20 menit sebelum tsunami tiba dan ke tiga cari tempat dengan ketinggian lebih dari 20 meter untuk berlindung.
Untuk mengantisipasi potensi gempa megathrust, BMKG telah meningkatkan sistem peringatan dini dengan memasang sensor muka laut, sensor cuaca, dan sirene tsunami.
Meski kapan terjadinya gempa ini tidak bisa diprediksi, kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi korban jiwa.
"Kita tidak tahu apakah terjadi dalam waktu dekat atau tidak, tapi kita harus siap," tegas Dwikorita.