Redaksi : Selasa, 25 Februari 2025 10:28

BUKAMATA - Korea Selatan tengah menghadapi krisis populasi yang semakin parah akibat rendahnya angka kelahiran. Semakin banyak generasi muda yang memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak, menyebabkan penurunan jumlah siswa di sekolah-sekolah di seluruh negeri.

Menurut laporan Korea Times yang mengutip data dari Kementerian Pendidikan Korea Selatan, sebanyak 49 sekolah akan ditutup tahun ini. Sekolah-sekolah yang terdampak mencakup sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di 17 kota dan provinsi di Korea Selatan.

Fenomena ini paling banyak terjadi di daerah pedesaan, dengan 88 persen sekolah yang dijadwalkan tutup berada di wilayah tersebut. Penurunan populasi menjadi faktor utama yang menyebabkan banyak sekolah tidak lagi memiliki murid yang cukup untuk beroperasi.

Jumlah sekolah yang tutup tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2020, ada 33 sekolah yang ditutup, kemudian angka itu turun menjadi 24 pada 2021, 25 pada 2022, dan 22 pada 2023. Namun, tahun lalu kembali meningkat menjadi 33 sekolah sebelum melonjak drastis menjadi 49 tahun ini.

Berdasarkan wilayah, Provinsi Jeolla Selatan menjadi daerah dengan jumlah penutupan sekolah terbanyak, yakni 10 sekolah, disusul oleh Provinsi Chungcheong Selatan dengan sembilan sekolah.

Dari segi jenjang pendidikan, sekolah dasar menjadi yang paling terdampak, dengan 38 dari 49 sekolah yang ditutup merupakan sekolah dasar. Sisanya, delapan adalah sekolah menengah pertama dan tiga adalah sekolah menengah atas.

Selain penutupan sekolah, krisis populasi juga terlihat dari banyaknya sekolah yang tidak menerima murid baru. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa tahun lalu terdapat 112 sekolah dasar di seluruh Korea Selatan yang tidak memiliki siswa baru.

Provinsi Jeolla Utara menjadi wilayah dengan jumlah sekolah dasar tanpa siswa baru terbanyak, yakni 34 sekolah hingga April lalu.

Dengan tren ini, pemerintah Korea Selatan menghadapi tantangan besar dalam menangani krisis populasi yang berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk pendidikan. Berbagai kebijakan telah digulirkan untuk mendorong angka kelahiran, namun hingga kini belum menunjukkan hasil yang signifikan.

TAG

BERITA TERKAIT