BUKAMATANEWS - Meskipun berada di tengah kecamuk perang, komunitas Katolik di Jalur Gaza tetap bersiap menyambut Hari Raya Natal 2024. Dengan jumlah yang hanya sekitar 500 orang, umat Katolik di Gaza menunjukkan keteguhan mereka dalam menjaga tradisi dan harapan, meski hidup di bawah bayang-bayang agresi Israel.
Di sebuah gereja kudus Katolik di Gaza, keluarga-keluarga terlihat menghias pohon Natal, sementara doa bersama dipanjatkan oleh umat Kristiani bersama para pastor. Salah satu pemimpin mereka, Pastor Gabriel Romanelli, menyebutkan bahwa perayaan Natal menjadi simbol harapan yang tak pernah padam.
"Di masa sulit ini, kami ingin memberikan tanda harapan, terutama bagi anak-anak kami. Bersama mereka, kami menyiapkan adegan kelahiran Yesus dan pohon Natal," tulis Pastor Romanelli di laman Facebook-nya, seperti dikutip oleh Catholic News Agency.
Namun, ia tidak memungkiri bahwa merayakan Natal di Gaza adalah tantangan besar. Dalam wawancara bersama CNA, Pastor Romanelli menggambarkan situasi di Gaza sebagai "mengancam jiwa," di mana penduduk hidup dalam kekurangan, mulai dari makanan, air, obat-obatan, hingga kebutuhan dasar lainnya.
"Ini adalah tempat kematian, di mana harapan seolah-olah tidak punya tempat," ujarnya.
Romanelli juga menyerukan agar perang segera diakhiri demi terciptanya kedamaian dan kehidupan yang layak bagi semua warga Gaza, termasuk umat Kristiani.
"Kami membutuhkan perdamaian agar yang terluka dapat dirawat, sekolah kembali dibuka, dan orang-orang dapat menjalani hidup dengan normal. Agar ada secercah harapan, perang yang mengerikan ini harus berakhir," ungkapnya.
Sayangnya, harapan itu masih harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Pada Minggu (22/12), pasukan Israel melancarkan serangan ke sebuah sekolah di Gaza, menewaskan beberapa anak di tempat.
Namun, di balik penderitaan itu, semangat Natal tetap hidup di hati umat Katolik Gaza. Di bawah pohon Natal yang sederhana, dengan nyala lilin dan doa, mereka merayakan cinta, harapan, dan iman di tengah kekacauan. Sebuah pesan yang mengingatkan dunia bahwa bahkan di saat paling gelap, ada cahaya yang tak pernah padam.
BERITA TERKAIT
-
Akses Bantuan Kemanusiaan ke Gaza Terhambat, Israel Batasi Jumlah Truk di Tengah Gencatan Senjata
-
Gaza Kekeringan, Indonesia Salurkan 10.000 Liter Air Bersih untuk 500 Keluarga Terdampak Perang
-
Kolaborasi Indonesia Jaga Harapan Warga Gaza Utara di Tengah Krisis Pangan
-
Relawan WIZ dan KITA Palestina Wahdah Islamiyah Diberangkatkan untuk Misi Kemanusiaan Sumud Flotilla Menuju Gaza
-
Kemlu Berduka! Direktur RS Indonesia Tewas Dibunuh Israel