BUKAMATANEWS - Pemimpin kelompok pemberontak Hayat Tahrir Al Sham (HTS), Abu Mohammed Al Julani, kini menjadi sorotan dunia internasional setelah berhasil menggulingkan rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad. Pada Minggu (8/12), pasukan HTS sukses menduduki ibu kota Damaskus, menandai akhir dari era Assad yang telah berkuasa selama lebih dari lima dekade.
HTS, yang dikenal sebagai kelompok oposisi bersenjata terkuat di Suriah, memainkan peran utama dalam kebangkitan pemberontak sejak konflik sipil dimulai pada 2011. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka merebut kota-kota strategis seperti Aleppo dan Homs sebelum akhirnya menguasai Damaskus.
Siapa Abu Mohammed Al Julani?
Lahir dengan nama Ahmed Hussein Al Sharaa pada 1982 di Riyadh, Arab Saudi, Al Julani pindah ke Suriah bersama keluarganya pada 1989. Setelah melanjutkan perjalanan ke Irak pada 2003, ia bergabung dengan Al Qaeda di Irak, menjadi bagian dari perlawanan terhadap invasi Amerika Serikat.
Pada 2011, ia kembali ke Suriah untuk mendirikan Front Al Nusra, cabang Al Qaeda yang kemudian berkembang menjadi Hayat Tahrir Al Sham (HTS) pada 2017. Di bawah kepemimpinannya, HTS bertransformasi menjadi kekuatan besar yang menguasai sebagian besar wilayah Idlib dan sekitarnya.
Al Julani memposisikan kelompoknya dengan tujuan utama mendirikan pemerintahan berbasis interpretasi hukum Islam di Suriah. Meskipun mengadopsi pendekatan nasional yang lebih moderat dibandingkan ambisi transnasional sebelumnya, HTS tetap dikenal dengan pendekatan tegas terhadap oposisi internal.
Sejak 2017, HTS menjalankan Pemerintah Keselamatan Suriah untuk mengelola layanan sipil seperti pendidikan, kesehatan, dan distribusi bantuan di wilayah yang mereka kuasai. Namun, laporan dari aktivis lokal dan organisasi independen menunjukkan bahwa HTS menggunakan cara-cara represif terhadap para pengkritiknya, termasuk penghilangan paksa dan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.
Meskipun keberhasilan HTS menggulingkan rezim Assad membuka babak baru dalam sejarah Suriah, tantangan besar masih menghadang. Upaya untuk membangun pemerintahan inklusif yang melindungi semua kelompok agama dan etnis menjadi tugas berat di tengah trauma panjang akibat perang saudara yang telah berlangsung selama 13 tahun.
Abu Mohammed Al Julani, sosok kontroversial di balik transformasi HTS, kini menghadapi sorotan dunia. Akankah ia mampu memimpin Suriah menuju perdamaian, atau justru menciptakan babak baru konflik di negara yang telah lama porak-poranda? Waktu yang akan menjawab.