Dewi Yuliani : Senin, 11 Maret 2024 23:22
Suharyanto

JAKARTA, BUKAMATA - Saat ini beberapa daerah di Tanah Air sedang menghadapi anomali bencana alam. Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto

"Kalau kita melihat fenomena di luar Sumatra Barat. Ini yang dikhawatirkan itu bencana hidrometeorologi kering," kata Suharyanto saat rapat koordinasi penanganan bencana di Kota Padang, Senin, 11 Maret 2024.

Meskipun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hingga akhir 2024 masih banyak hujan, namun BNPB mencatat empat titik di Riau terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Inilah anomali negara kita. Di Sumbar yang tiap tahun gempa, erupsi, banjir dan longsor, namun di provinsi sebelah terjadi kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

Saat ini pemerintah justru lebih khawatir menipisnya pasokan air. Akibat bencana hidrometeorologi kering seperti kebakaran hutan dan lahan.

"Justru pemerintah khawatir ketersediaan air. Dalam rangka produktivitas pertanian," ucapnya. 

Bencana kekeringan tersebut perlu diwaspadai semua daerah termasuk Provinsi Sumbar. Sebab hal itu akan berdampak pada ketersediaan pasokan pangan.

Dalam rapat koordinasi penanganan bencana BNPB mengingatkan kepala daerah dan pemangku kepentingan terkait. Ini untuk meyakinkan masyarakat bahwa status tanggap dan siaga darurat tidak akan berlangsung lama.

"Sebab, hal itu bisa berdampak pada pelayanan. Serta penanganan dalam kondisi darurat," katanya. 

Apalagi BNPB sempat menerima informasi distribusi bahan makanan dan kebutuhan dasar bagi korban banjir dan longsor yang tidak lancar. Oleh karena itu pemerintah harus bisa memastikan tidak ada warga yang belum mendapatkan bantuan logistik.

"Saya mengharapkan pemerintah daerah termasuk TNI dan Polri bisa menerobos berbagai kendala di lapangan. Termasuk daerah yang terisolir dengan mengerahkan alat berat," ujarnya.  (*)