Hikmah : Sabtu, 02 Maret 2024 12:03

BUKAMATA - Perusahaan konsultan politik dan ekonomi Eurasia Group telah merilis laporan yang mengungkapkan bahwa permintaan minyak mentah dari China diproyeksikan akan menurun drastis pada tahun 2024.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa permintaan minyak dari negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini diperkirakan hanya akan mencapai setengah dari level sebelum krisis Covid-19.

Menurut Eurasia Group, sektor-sektor utama di China, khususnya industri konstruksi dan otomotif, masih mengalami kesulitan dalam pulih dari dampak resesi. Hal ini menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan permintaan minyak di negara tersebut.

Dalam laporan yang dipetik dari CNBC pada Sabtu 2 Maret 2024, Eurasia Group memperkirakan bahwa permintaan minyak mentah China akan berkisar antara 250 ribu hingga 350 ribu barel per hari.

Jumlah ini jelas jauh di bawah setengah dari permintaan sebelum krisis pada tahun 2019. Pertumbuhan permintaan juga diprediksi tidak akan mencapai level sebelumnya yang mencapai 1 juta barel per hari antara tahun 2015 hingga 2020.

Analisis dari Eurasia Group menyebutkan beberapa faktor yang menjadi penyebab penurunan permintaan minyak China, termasuk tingkat utang yang meningkat, demografi yang menyusut, serta perkiraan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Bahkan dengan pemulihan pasar properti, pertumbuhan di masa depan dipandang tidak mungkin mencapai level sebelum pandemi.

Perlu dicatat bahwa menurut laporan yang diterbitkan oleh International Energy Agency, China diperkirakan akan kehilangan posisinya sebagai pendorong utama permintaan minyak dunia hingga tahun 2030, dengan India mengambil alih posisi tersebut.

Meskipun demikian, pada tahun lalu, China berhasil mencatat konsumsi minyak mentah tertinggi sepanjang masa, mencapai 16,03 juta barel per hari. Hal ini disebabkan oleh kebijakan impor minyak mentah murah yang diambil negara tersebut setelah jatuhnya harga minyak.

Namun, faktor-faktor pendukung pertumbuhan permintaan tersebut mulai memudar, termasuk perlambatan ekonomi yang mempengaruhi permintaan bensin dan diesel.

Direktur Produk Olahan Rapidan Energy, Linda Giesecke, menyatakan dalam wawancara dengan CNBC bahwa elektrifikasi armada mobil di China juga menjadi faktor pembatas dalam pertumbuhan konsumsi bensin. Hal ini menunjukkan bahwa China sedang bergerak menuju pertumbuhan berkualitas rendah dalam konsumsi energi.