BUKAMATA - Satuan Tugas (Satgas) Pangan mengungkapkan penyebab utama kelangkaan beras di ritel-ritel modern.
Menurut Brigjen Pol Assegaf dari Tim Satgas Pangan Bareskrim Mabes Polri, produsen lebih condong memasok beras premium ke pasar tradisional karena harga yang lebih menguntungkan dibandingkan ritel modern.
Dalam sebuah rapat koordinasi pengendalian inflasi pangan yang disiarkan secara virtual pada Senin (26/2/2024), Assegaf menjelaskan bahwa stok beras di gudang distribusi center dan outlet ritel modern minim, terutama di wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Banten.
Sebagai contoh, di Jawa Tengah, stok beras di gudang ritel modern hanya mencapai 760 ton, sementara di gudang Bulog mencapai 91.127 ton.
Assegaf menambahkan bahwa situasi serupa terjadi di DKI Jakarta dan Banten, di mana stok beras di ritel modern jauh lebih rendah dibandingkan stok di pasar tradisional.
Dia juga mengungkapkan bahwa di wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Banten, stok beras medium dan premium di ritel modern tidak mencukupi, sedangkan di pasar tradisional stok masih mencukupi.
Dalam konteks ini, data yang diberikan Assegaf menunjukkan bahwa stok beras medium atau SPHP (Sistem Pangan Harapan) di gudang-gudang ritel hanya mencapai ratusan ribu kilogram, sementara stok beras premium bahkan kosong.
Hal ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan pasokan antara ritel modern dan pasar tradisional, dengan ritel modern yang mengalami kekurangan pasokan beras premium.
Dengan demikian, penyebab utama kelangkaan beras di ritel modern adalah kecenderungan produsen untuk memasok beras premium ke pasar tradisional karena harga yang lebih menguntungkan, menyebabkan stok yang minim di ritel modern terutama untuk beras premium.
Hal ini menimbulkan tantangan serius dalam menjaga ketersediaan beras bagi konsumen, terutama di ritel modern.