BUKAMATA - Raksasa pertambangan global, Glencore, mengumumkan rencananya untuk menjual sahamnya di Koniambo Nickel SAS (KNS) di Kaledonia Baru serta menghentikan produksi di pabrik pengolahan KNS selama enam bulan. Keputusan ini diambil sambil mencari investor baru untuk bisnis yang sedang merugi.
Menurut laporan dari Reuters, Prancis telah melakukan negosiasi untuk menyelamatkan industri nikel Kaledonia Baru. Pekan lalu, pemerintah Prancis bahkan menawarkan dukungan senilai sekitar 200 juta euro untuk KNS.
Glencore menyatakan dalam pernyataan Senin lalu bahwa biaya operasional yang tinggi dan kondisi pasar nikel yang lemah membuat operasi KNS tetap tidak menguntungkan, meskipun adanya tawaran bantuan dari pemerintah Prancis.
Langkah ini, menurut analis Citi, akan membantu Glencore menghindari dampak negatif terhadap pendapatan inti (EBITDA) hingga $400 juta. Meskipun demikian, hal ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi industri nikel di tengah persaingan global, termasuk dari Indonesia yang tengah menggenjot ekspor nikel melalui program hilirisasi.
Menyikapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menegaskan pentingnya pelaku industri untuk melakukan hilirisasi lebih lanjut guna menghadapi tren turunnya harga nikel dan tantangan dalam pasar global.
Dengan langkah Glencore ini, pasar nikel global dan industri pertambangan di Indonesia perlu memperhatikan pergeseran dinamika yang terjadi serta mempersiapkan strategi untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa depan.