Hikmah
Hikmah

Kamis, 25 Januari 2024 13:33

Rupiah Tersungkur di Hadapan Dollar  Usai As Rilis PMI

Rupiah Tersungkur di Hadapan Dollar Usai As Rilis PMI

Rupiah tersungkur dihadapan Dollar AS setelah dirilisnya data PMI AS yang mempengaruhi pasar. Menurut data dari Refinitiv, rupiah tercatat turun hingga mencapai Rp15.795/USD.

BUKAMATA - Pagi ini, rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurut data dari Refinitiv, rupiah tercatat turun hingga mencapai Rp15.795/USD atau mengalami penurunan sebesar 0,57%, tidak sampai tiga jam setelah pembukaan perdagangan pada hari ini 25 Januari 2024.

Berita sebelumnya sudah memberikan indikasi bahwa rupiah mendapat tekanan di level Rp15.700, dan kondisi ini semakin memburuk seiring berita terbaru tentang data PMI AS yang telah dirilis semalam.

Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 11.53 WIB tercatat menguat sebesar 0,1%, berada di posisi 103,33. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan penutupan perdagangan Rabu (24/1/2024) yang berada di angka 103,23.

Data yang dirilis semalam menyebutkan bahwa PMI Manufaktur Flash AS naik lebih tinggi dari konsensus dan periode satu bulan sebelumnya, dari 47,9 menjadi 50,3.

Sementara itu, PMI Composite AS pada Januari 2024 secara flash menunjukkan kenaikan dari 50,9 menjadi 52,3, melampaui proyeksi yang memperkirakan turun ke posisi 50,3.

Nilai PMI manufaktur di atas 50 menandakan bahwa kondisi manufaktur AS berada dalam fase ekspansif. Data PMI menjadi krusial karena semakin tingginya angka ini dapat menyebabkan aktivitas manufaktur AS menjadi lebih intens, yang berpotensi membuat kendali inflasi menjadi semakin sulit.

Pengamat pasar menyebut bahwa penguatan dolar AS dan hasil positif dari data PMI AS dapat menjadi faktor utama dalam pelemahan rupiah pada perdagangan awal hari ini.

Hal ini mengindikasikan dampak langsung dari peristiwa global terhadap nilai tukar mata uang lokal. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.