Hikmah : Kamis, 25 Januari 2024 13:02

BUKAMATA - Pada tanggal 23 Januari, IU merilis lagu terbarunya, "Love Wins All," yang menampilkan V dari BTS sebagai lawan mainnya. Video musik ini mendapatkan perhatian luas karena netizen memuji chemistry antara kedua bintang tersebut.


Dalam video, IU dan V terlihat berlari dari sebuah kubus misterius yang diyakini berperan dalam dunia apokaliptik mereka.

Meskipun banyak yang menyukai kisah cinta fiksi ilmiah ini, beberapa orang mengkritik konsep video musik tersebut. Nara Kim, seorang model dan seniman, menyampaikan pandangannya bahwa video ini menggunakan disabilitas sebagai elemen drama tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Nara, yang terlibat dalam styling K-Pop sejak 2022, secara terbuka menyatakan dirinya sebagai "bisexual openly queer."

Setelah rilis "Love Wins All,"  stylish Hybe ini memposting di media sosial dengan menggunakan hashtag terkait video musik tersebut. Dalam keterangannya, dia mengungkapkan ketidakpuasannya dengan risiko difalsifikasi sebagai orang yang 'normal' dan non-disable melalui kamera.

Alasannya adalah adanya kamera ajaib dalam video musik yang memungkinkan IU dan V melihat diri mereka tanpa cedera, termasuk kebutaan V dan dugaan ketuliannya IU. Menurut Nara, judul asli lagu ini adalah "Love Wins," frase yang kerap digunakan oleh komunitas LGBTQIA+, sebelum diubah.

Nara berpendapat bahwa video ini menggambarkan dua karakter dengan disabilitas yang tampak lebih bahagia tanpa disabilitas, menciptakan narasi heteronormatif di bawah frasa "Love Wins."

Menurutnya, video tersebut menggunakan disabilitas dan minoritas sebagai properti dalam kisah mengatasi kesulitan, dengan dua selebriti non-disable memainkan peran-peran tersebut.

Sikap Nara muncul dari konsep ableis "inspiration p*rn," yang menyoroti penggunaan disabilitas untuk mendapatkan inspirasi tanpa memberikan dukungan yang sesungguhnya.

Video musik IU dapat diinterpretasikan sebagai pasangan yang ingin kembali ke keadaan sebelumnya, namun kritik Nara mengundang pemikiran bahwa representasi disabilitas dalam konten hiburan harus lebih sensitif dan menghindari pemanfaatan untuk tujuan dramatisasi semata.

TAG

BERITA TERKAIT