Hikmah
Hikmah

Selasa, 23 Januari 2024 12:09

Ingin Rebut Koridor Philadelphia, Israel Berisiko Seret Negara Arab ke Dalam Konflik Baru

Ingin Rebut Koridor Philadelphia, Israel Berisiko Seret Negara Arab ke Dalam Konflik Baru

Israel diprediksi menghadapi risiko konflik baru dengan negara-negara Arab seiring rencananya merebut kembali Koridor Philadelphia di perbatasan selatan Gaza.

BUKAMATA - Israel dilaporkan berisiko menyeret negara Arab baru ke dalam konflik, dengan rencananya merebut kembali Koridor Philadelphia, sebuah wilayah 'tanah tak bertuan' di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir.

Koridor seluas 14 km tersebut diyakini telah digunakan selama bertahun-tahun oleh kelompok militan untuk menyelundupkan senjata, teknologi, uang, dan personel.

Israel meyakini bahwa aliran dukungan untuk kelompok Hamas di Gaza berasal dari Semenanjung Sinai melalui koridor tersebut. Untuk menghentikan hal ini, Israel mempertimbangkan untuk menduduki kembali wilayah tersebut, dengan dukungan beberapa politisi, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Meski Peneliti Senior di The International Institute for Counter-Terrorism, Dr. Ely Karmon, menyatakan bahwa Israel tidak berniat menduduki wilayah tersebut. Sebaliknya, Israel berencana meningkatkan kehadiran militernya di sana untuk menjaga keamanan, mengingat adanya perjanjian damai dengan Mesir.

Namun, Direktur Eksekutif Pusat Penelitian dan Studi Arab di Kairo, Hany Soliman, mengatakan bahwa rencana ini bisa jadi lebih dari sekadar peningkatan kehadiran militer. Israel dan Amerika Serikat disebut setuju untuk membangun tembok bawah tanah di sisi Mesir sepanjang 13 km dengan kedalaman 1 km, dilengkapi dengan sensor dan teknologi lainnya.

Soliman menyebut proyek ini didanai oleh AS, tetapi keberhasilannya tergantung pada keinginan masyarakat Mesir, yang mungkin tidak ingin terburu-buru. Mesir juga memiliki hak penuh untuk menolak proyek ini, dengan mengklaim bahwa pendudukan poros Philadelphia melanggar Perjanjian Oslo dan kedaulatan mereka.

Sebuah jajak pendapat di 16 negara Arab menunjukkan bahwa 92% responden merasakan solidaritas terhadap Palestina. Opini publik yang kuat ini dapat mempersulit upaya Israel untuk merealisasikan rencananya, dengan kemungkinan konsekuensi yang mengerikan, termasuk potensi konflik baru dengan Mesir dan kerusakan pada perjanjian damai yang ada.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.