BUKAMATA - Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta dan Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta menjadi dua dari 34 provinsi di Indonesia yang dinilai paling siap untuk melakukan transisi energi.
Hasil penilaian ini diungkapkan oleh lembaga think tank Center of Economic and Law Studies (Celios) melalui studi Energy Transition Readiness Index (ETRI) pada hari Senin.
ETRI menilai kesiapan transisi energi berdasarkan empat kategori, yakni skor 80-100 masuk kategori sangat tinggi, skor 60-79 masuk kategori tinggi, skor 40-59 masuk kategori sedang, skor 20-39 masuk kategori rendah, dan skor 0-19 masuk kategori sangat rendah.
DKI Jakarta memperoleh skor 84,24, termasuk dalam kategori sangat tinggi, sementara DI Yogyakarta mendapat skor 66,74, masuk dalam kategori tinggi.
Celios menjelaskan bahwa ETRI memberikan penilaian terstruktur dan komprehensif mengenai kesiapan transisi energi di Indonesia.
Studi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi investasi, baik dari investor domestik maupun internasional, serta mengidentifikasi dan memitigasi kesenjangan distribusi, aksesibilitas, dan pemanfaatan sumber daya energi di seluruh negeri.
Namun, dari 34 provinsi yang dinilai, sebanyak 32 provinsi atau 90 persen di antaranya dinilai belum memiliki kesiapan transisi energi yang memadai.
Dari jumlah tersebut, 24 provinsi memiliki kategori sedang, tujuh provinsi memiliki kategori rendah, dan satu provinsi memiliki kategori sangat rendah.
Direktur Kebijakan Publik Celios Media Wahyudi Askar menyatakan bahwa kesiapan transisi energi masih jauh dari kemerataan antarwilayah.
"Belum meratanya kesiapan daerah dalam transisi energi juga bergantung pada tingkat konsumsi per kapita, signifikansi keterlibatan perempuan, dan tingkat kerentanan iklim dan energi di tiap daerah," ujarnya.
Studi Celios juga menemukan bahwa provinsi dengan tingkat kerentanan yang tinggi justru memiliki indeks kesiapan transisi energi yang lebih baik. Pengalaman menghadapi kerugian finansial akibat bencana menjadi pembelajaran untuk lebih cepat melakukan transisi energi.
Keterlibatan perempuan juga diakui sebagai aspek penting dalam agenda transisi, membawa pemahaman mendalam tentang kebutuhan energi di tingkat rumah tangga dan komunitas.