BUKAMATA - Ekonomi China menghadapi tantangan serius dengan penurunan indeks harga konsumen tercepat dalam tiga tahun terakhir pada November 2023.
Data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional (NBS) pada Sabtu, 9 Desember 3023, mengungkapkan deflasi sebesar 0,5%, melampaui ekspektasi pasar.
Deflasi ini menjadi yang paling tajam sejak November 2020, mencerminkan tekanan deflasi yang semakin meningkat akibat lemahnya permintaan domestik.
Indeks harga produsen juga turun 3,0% secara tahunan pada bulan yang sama, merupakan penurunan ke-14 bulan berturut-turut dan yang terdalam sejak Agustus.
Meskipun Gubernur bank sentral China, Pan Gongsheng, mengindikasikan bahwa indeks harga konsumen diperkirakan akan meningkat, kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi semakin meningkat.
Tanda-tanda deflasi yang tajam menambah tekanan pada perekonomian China yang telah dihadapkan pada berbagai hambatan, termasuk meningkatnya utang pemerintah daerah dan lemahnya pasar perumahan.
Dalam konteks ini, seruan untuk dukungan kebijakan lebih lanjut semakin nyaring. Moody's memberikan peringatan penurunan peringkat kredit China, mempertimbangkan biaya dukungan ke pemerintah daerah dan perusahaan negara serta upaya mengendalikan krisis properti.
Kementerian Keuangan China merespons dengan menyebut keputusan tersebut "mengecewakan" dan memastikan bahwa perekonomian akan pulih, serta risiko dapat dikendalikan.
Di tengah ketidakpastian pemulihan ekonomi, China berusaha mengatasi tantangan ekonomi yang kompleks untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.