Hikmah : Senin, 27 November 2023 08:30

BUKAMATA  - Dalam upaya untuk melanjutkan gerakan dedolarisasi, China dan Arab Saudi telah menandatangani perjanjian pertukaran mata uang senilai sekitar USD 7 miliar dalam bentuk mata uang masing-masih yaitu riyal dan yuan.

Dikutip dari laporan Business Insider kesepakatan tersebut, berjangka tiga tahun, mencakup batasan transaksi hingga 50 miliar yuan atau 26 miliar riyal.

Meskipun jumlahnya relatif kecil, kesepakatan ini memiliki dampak simbolis karena Arab Saudi merupakan eksportir minyak terbesar di dunia, dan sebagian besar perdagangan minyak global masih menggunakan dolar.

Sebelumnya, China telah mengambil langkah-langkah besar dalam dedolarisasi dengan akuisisi emas dalam jumlah besar.

Seiring dengan perubahan dalam perdagangan dan cadangan devisa, pembelian emas oleh bank sentral global meningkat secara signifikan, menunjukkan upaya untuk mendiversifikasi cadangan devisa dari dolar.

Berbicara tentang dedolarisasi, sejumlah negara termasuk China, Brazil, Argentina, Bangladesh, dan India telah menyusun langkah-langkah untuk memutus ketergantungan pada dolar.

Seiring dengan itu, konflik geopolitik dan sanksi terhadap Rusia telah memicu kekhawatiran lebih lanjut tentang supremasi dolar dalam perdagangan dan keuangan global.

Selain China, Arab Saudi juga bergabung dalam gerakan ini dengan langkah-langkah seperti pertukaran mata uang dengan China, menandai perubahan dalam lanskap ekonomi global.

Dilansir dari kontan.co.id Setidaknya ada tiga alasan mengapa negara-negara lain mulai menggaungkan dedolarisasi diantaranya  :

1. Kebijakan moneter AS terlalu berpengaruh 

AS adalah penerbit mata uang cadangan dunia, yang juga merupakan mata uang dominan dalam sistem perdagangan dan pembayaran internasional.

Akibatnya, AS memiliki pengaruh yang sangat besar pada ekonomi dunia dan sering dinilai terlalu tinggi, lapor lembaga think tank Wilson Center pada bulan Mei.

Posisi ini telah memberi AS apa yang disebut Valéry Giscard d'Estaing, presiden Prancis dari tahun 1974 hingga 1981, sebagai "hak istimewa yang terlalu tinggi".

Ini juga berarti bahwa negara-negara di seluruh dunia harus mengikuti kebijakan ekonomi dan moneter AS secara ketat untuk menghindari dampak limpahan pada ekonomi mereka.

2. Dolar AS Terlalu Mahal

Penguatan greenback terhadap sebagian besar mata uang di seluruh dunia membuat impor jauh lebih mahal bagi negara-negara berkembang. 

3. Perdagangan global dan permintaan minyak semakin beragam

Alasan utama dolar AS menjadi mata uang cadangan dunia adalah bahwa negara-negara Teluk di Timur Tengah menggunakan greenback untuk memperdagangkan minyak — karena itu sudah menjadi mata uang perdagangan yang digunakan secara luas pada saat mereka memperdagangkan minyak.

Pengaturan tersebut diresmikan pada tahun 1945 ketika negara raksasa minyak Arab Saudi dan AS mencapai kesepakatan bersejarah di mana Arab Saudi akan menjual minyaknya ke Amerika hanya dengan menggunakan greenback.

Sebagai imbalannya, Arab Saudi akan menginvestasikan kembali kelebihan cadangan dolar ke perbendaharaan dan perusahaan AS. Pengaturan tersebut menjamin keamanan AS untuk Arab Saudi.

TAG

BERITA TERKAIT