BUKAMATA - Israel dan Hamas telah menyepakati gencatan senjata selama 4 hari kedepan. Namun dalam pernyataan terbarunya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan terus melancarkan agresinya ke Jalur Gaza Palestina.
Sebagai imbalahn dari gencatan senjata tersebut, mayoritas menteri mendukung kesepakatan pertukaran sandera dengan Hamas. Hal tersebut diputuskan dalam voting internal kabinet Israel yang berlangsung hingga dini hari 22 November waktu setempat.
"Kami telah memutuskan keputusan yang sulit malam ini, tapi ini adalah keputusan yang benar," ucap Netanyahu dalam rapat kabinet Israel pada Rabu dini hari usai merampungkan rapat.
Meski begitu, Netanyahu mewanti-wanti bahwa agresi Israel ke Gaza akan tetap lanjut sampai tujuan negaranya tercapai.
"Saya ingin menegaskan. Kita sedang dalam perang dan akan terus berperang sampai kita mencapai seluruh tujuan kita, untuk menghancurkan Hamas, dan untuk membebaskan seluruh sandera dan warga kita yang hilang," kata Netanyahu.
"Kami akan memastikan bahwa tidak ada lagi entitas di Gaza yang akan mengancam Israel," paparnya menambahkan seperti dikutip Jerusalem Post.
Dikutip Times of Israel via CNN Indonesia, belum jelas detail kesepakatan Hamas dan Israel soal gencatan senjata ini.
Namun, gencatan senjata ini menjadi yang pertama sejak agresi Israel berlangsung ke Gaza imbas serangan Hamas pada 7 Oktober lalu.
Media lokal menuturkan seluruh badan keamanan dan intelijen Israel mendukung kesepakatan dengan Hamas ini. Ini menjadikan beberapa menteri Israel yang sebelumnya menentang gencatan senjata, seperti Menteri Persatuan Nasional Gideon Sa'ar, berubah pikiran menjadi ikut mendukung kesepakatan.
Kesepakatan gencatan senjata ini dikabarkan mencakup pembebasan sekitar 50 dari 200 sandera Hamas. Israel juga sepakat mengembalikan tahanan Palestina yang selama ini dihukum di penjara negara tersebut.