Hikmah : Kamis, 16 November 2023 11:26
Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping(dok:reuters)

 

BUKAMATA - Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu untuk pertama kalinya dalam setahun.

Dalam pertemuan langsung pertama mereka dalam setahun, tersebut mencapai kesepakatan yang signifikan, termasuk membuka jalur komunikasi presidensial, melanjutkan komunikasi militer-ke-militer, dan bekerja bersama untuk mengendalikan produksi fentanyl.

Pertemuan berlangsung sekitar empat jam di pinggiran San Francisco, menunjukkan kemajuan nyata dalam meningkatkan hubungan yang tegang antara kedua negara.

"Kami kembali ke komunikasi langsung, terbuka, dan jelas secara langsung." kata Bidden seperti dilansir dari reuters. 

Keduanya juga sepakat untuk menjalin komunikasi tingkat tinggi, dengan kemampuan untuk saling menelepon secara langsung.

Namun, pernyataan Biden bahwa Xi adalah seorang diktator tetap memicu respons, meskipun keduanya setuju untuk melanjutkan pembicaraan secara terus terang. Xi merespons bahwa pandangan negatif terhadap Partai Komunis Tiongkok di Amerika Serikat tidak adil.

Dalam konteks militer, Biden meminta agar kedua negara menginstitusionalisasi dialog militer-ke-militer, dan China setuju untuk menghentikan ekspor bahan terkait produksi fentanyl, obat opioid penyebab overdosis di Amerika Serikat.

Selain itu, kedua pemimpin sepakat untuk mengumpulkan para ahli guna membahas risiko kecerdasan buatan. Namun, perbedaan muncul dalam diskusi mengenai Taiwan. Xi menyatakan preferensinya untuk reunifikasi damai dengan pulau tersebut, sementara Biden menekankan perlunya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta mempertahankan status quo.

Pertemuan ini menjadi ajang untuk membahas isu-isu yang membebani hubungan kedua negara, seperti perhatian Washington terhadap warga AS yang ditahan, hak asasi manusia, dan aktivitas Tiongkok di Laut China Selatan.

Kesepakatan untuk mengendalikan produksi fentanyl, obat opioid yang menjadi penyebab utama overdosis di Amerika Serikat, dianggap sebagai langkah signifikan yang dapat menyelamatkan nyawa. China berkomitmen untuk mengatasi perusahaan kimia yang membuat prekursor fentanyl sesuai dengan perjanjian tersebut.

Meskipun demikian, ketegangan dan perbedaan pandangan masih ada, terutama terkait dengan penilaian Biden bahwa Xi adalah seorang diktator. Masyarakat internasional kini menantikan implementasi langkah-langkah konkret dari kesepakatan tersebut dan bagaimana hal tersebut dapat memengaruhi dinamika hubungan AS-Tiongkok ke depannya.

TAG

BERITA TERKAIT