Hikmah : Rabu, 15 November 2023 10:56

BUKAMATA - Dalam eskalasi dramatis konflik di Gaza, militer Israel melancarkan serangan pada hari Rabu menargetkan militan Hamas yang dilaporkan berada di Rumah Sakit Al Shifa.

Rumah sakit ini merupakan fasilitas medis terbesar di Jalur Gaza dan masih menampung ribuan warga sipil Palestina, termasuk pasien dan pengungsi.

Direktur Jenderal kesehatan Gaza, Dr. Munir al-Bursh, mengungkapkan bahwa pasukan Israel telah melakukan serangan di sisi barat kompleks medis, menyebabkan ledakan besar dan debu di area tersebut.

Rumah Sakit Al Shifa menjadi pusat kekhawatiran internasional karena kondisi yang memburuk di dalamnya selama lima minggu serangan Israel di Gaza.

Kurang dari satu jam sebelum serangan, Israel telah memberitahu pejabat kesehatan Gaza tentang niatnya untuk menargetkan kompleks rumah sakit Shifa.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa operasinya tepat dan ditargetkan melawan Hamas, dengan tuduhan bahwa rumah sakit tersebut digunakan oleh kelompok militan sebagai pusat komando dengan terowongan di bawahnya untuk operasi militer.

"Pasukan IDF termasuk tim medis dan penutur bahasa Arab, yang telah menjalani pelatihan khusus untuk mempersiapkan lingkungan yang kompleks dan sensitif ini, dengan niat agar tidak ada kerusakan pada warga sipil." seperti pernyataan IDF dilansir dari Reuters.

AS mengumumkan pada hari Selasa bahwa intelijen mereka mendukung kesimpulan Israel, sehingga Hamas menuduh bahwa AS memberikan "lampu hijau" untuk serangan tersebut. Hamas menyalahkan Israel dan Presiden AS Joe Biden sepenuhnya atas operasi tersebut.

Saat konflik memanas dalam 10 hari terakhir, pasukan Israel terlibat dalam pertempuran sengit melawan pejuang Hamas sebelum maju ke pusat Kota Gaza dan mengepung Al Shifa.

Israel bersumpah untuk menghancurkan Hamas sebagai balasan serangan lintas batas militan pada 7 Oktober, mengklaim bahwa Hamas membunuh 1.200 orang dan menyandera lebih dari 240 orang.

Situasi di Rumah Sakit Al Shifa menjadi sangat kritis, dengan laporan kelangkaan bahan bakar, air, dan pasokan. Hamas mengklaim bahwa penembak jitu dan pesawat tak berawak Israel secara terus-menerus menargetkan rumah sakit, menyebabkan kematian pasien, termasuk bayi di ruang neonatal. S

ekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera, mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas "kehilangan nyawa dramatis" di rumah sakit.

Langkah Israel menuju rumah sakit Shifa telah menimbulkan pertanyaan tentang interpretasi hukum internasional yang melindungi fasilitas medis dan warga yang terdisplasemen.

Rumah sakit dilindungi oleh hukum humaniter internasional, tetapi tuduhan penggunaan militer oleh Hamas dapat mempersulit situasi, karena hal itu juga akan melanggar hukum internasional.

Israel mengklaim telah memberikan otoritas Gaza waktu 12 jam untuk menghentikan aktivitas militer di dalam rumah sakit.

Namun, kementerian kesehatan Gaza mengatakan bahwa tidak ada rencana untuk mengevakuasi pasien dan warga sipil.

Komunitas internasional dengan cermat memantau perkembangan ini, menekankan pentingnya menjaga hukum internasional dan memastikan keselamatan warga sipil di zona konflik.

 

 

TAG

BERITA TERKAIT