Gegara Panas Bumi, 100 Juta Manusia di Dunia Terancam Jadi Miskin
Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Suharso menjelaskan suhu rata-rata muka bumi terus meningkat, di mana dalam sepuluh tahun terakhir (2011-2020) sudah naik 1,09 derajat celcius.
BUKAMATA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa mengungkapkan dampak perubahan iklim, yakni memanasnya suhu bumi mengancaman kelangsungan hidup penduduk dunia, termasuk meningkatnya angka penduduk miskin.

Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Suharso menjelaskan suhu rata-rata muka bumi terus meningkat, di mana dalam sepuluh tahun terakhir (2011-2020) sudah naik 1,09 derajat celcius.
"Kalau kondisi ini dibiarkan, bumi akan memburuk. Dengan meningkatnya suhu di atas 1,5 derajat, seluruh sistem kehidupan akan terganggu,” ujarnya dalam Dialog Nasional Antisipasi Dampak Perubahan untuk Pembangunan Indonesia Emas 2045, dilansir Bisnis, Selasa (22/8/2023).
Bahkan, dia memprediksi kenaikan suhu tersebut akan terus meningkat akibat produksi gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer juga berlanjut.
Suharso Monoarfa melaporkan per 16 Agustus 2023, konsentrasi karbon dioksida global di atmosfer telah meningkat 6,3 persen dibandingkan 2011 menjadi 419,55 ppm Kondisi tersebut turut disertai dengan mencairkan es di kutub dan mendorong kenaikan muka air laut yang mencapai tiga kali lipat dibandingkan periode 1900-1971.
"Indonesia sendiri saat ini mencatatkan rata-rata kenaikan muka air laut Indonesia saja sudah mencapai 0,8-1,2 cm per tahun," jelasnya.
Bahkan, Suharso mengungkapkan bahwa salah satu wilayah di NTB harus kehilangan dataran karena kenaikan air laut sebesar 4 meter setiap tahunnya.
Kondisi perubahan iklim ini, lanjutnya, mengakibatkan ketersediaan air bersih berkurang, naiknya potensi kekeringan, wabah penyakit, dan bencana alam.
"Diperkirakan, lebih dari 100 juta penduduk dunia akan miskin, bahkan akan ada 4,8 miliar -5,7 miliar penduduk akan mengalami kekurangan air pada 2050,” tambah Suharso. Untuk itu, dia menegaskan perlu adanya sebuah intervensi kebijakan untuk mengatasi kondisi iklim yang berpotensi mempengaruhi visi Pembangunan Indonesia Emas 2045. “Kami sedang berusaha menempatkan perubahan iklim itu di perencanaan jangka panjang. Sebenarnya banyak program yang sudah kami usulkan, tapi kita berusaha memang ada keterbatasan dana untuk itu,” tutupnya.
News Feed
Ikatek Unhas Borong Dua Gelar, Tampil Dominan di AAS Cup II 2026
18 Mei 2026 12:03
Laga Panas di BJ Habibie Pare-pare: Persib Menang, Suporter PSM Meradang
17 Mei 2026 23:52
Bungkam Juku Eja di Parepare, Persib Bandung Amankan Tiga Poin Krusial!
17 Mei 2026 21:51
Berita Populer
18 Mei 2026 12:03
18 Mei 2026 12:09
