Hikmah : Rabu, 16 Agustus 2023 16:01

BUKAMATA - Keputusan India untuk melarang ekspor beberapa jenis beras telah menciptakan dampak global, meskipun alasan di balik larangan tersebut adalah masalah domestik.

Pada bulan lalu, hanya tiga hari setelah Rusia mundur dari perjanjian gandum Laut Hitam, India memberlakukan larangan pada tanggal 20 Juli terhadap ekspor beras putih non-basmati.

Langkah ini menyusul larangan ekspor beras pecah yang diumumkan pada September tahun lalu dan masih berlaku hingga saat ini.

Alasan di balik tindakan India adalah masalah domestik, yaitu kenaikan harga pangan, inflasi tinggi, dan ketakutan terhadap kekurangan beras akibat gangguan El Nino saat negara ini memasuki musim perayaan dan pemilihan umum.

Namun, dampak larangan tersebut telah dirasakan secara global, dengan lonjakan harga yang terjadi.

“Sebelumnya, harga beras diperdagangkan seharga USD550 per ton metrik, sekarang harga-harga itu berada di atas $650,” ungkap Nitin Gupta, wakil presiden senior Olam Agri India Private Limited, salah satu eksportir beras terbesar di India.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai peran India dalam pasar beras global serta bagaimana pemilihan umum, perubahan iklim, dan El Nino memengaruhi harga beras.

Eksportir Terbesar di Dunia

India, eksportir beras terbesar di dunia, menyumbang hampir 40 persen dari perdagangan beras global pada tahun 2022, dengan nilai ekspor 22 juta ton senilai $9,66 miliar ke 140 negara. Ini termasuk 4,5 juta ton beras basmati, 8 juta ton beras parboiled, 6 juta ton beras putih non-basmati, dan 3,5 juta ton beras pecah.

India masih terus mengekspor beras parboiled dan basmati, memenuhi setengah dari komitmen internasionalnya. Namun, harga beras global telah meningkat sebesar 15-25 persen sejak dilakukan larangan.

Dampak terburuk terjadi pada masyarakat miskin di negara-negara seperti Bangladesh dan Nepal, yang mengandalkan beras putih India, dan negara-negara di Afrika seperti Benin, Senegal, Togo, dan Mali, yang mengimpor beras pecah — jenis beras yang paling murah dan paling mengenyangkan.

Harga internasional untuk biji-bijian sebelumnya sudah melonjak akibat perang Rusia di Ukraina. Harga juga semakin meningkat setelah Rusia keluar dari Inisiatif Gandum Laut Hitam, yang seharusnya memungkinkan gandum dari Ukraina mencapai pasar dunia.

 

TAG

BERITA TERKAIT