Hikmah
Hikmah

Rabu, 09 Agustus 2023 12:55

Warga Karanganyar menggali dasar sungai yang kering untuk mendapatkan air bersih (dok: reuters)
Warga Karanganyar menggali dasar sungai yang kering untuk mendapatkan air bersih (dok: reuters)

Kasus Kekeringan di Karanganyar Jadi Sorotan Media Luar Negeri: Warga Gali Sungai Kering demi Air Bersih

Krisis kekeringan yang parah di desa Karanganyar, Indonesia, akibat fenomena El NiƱo menarik perhatian dunia internasional. Warga terpaksa menggali dasar sungai kering untuk mendapatkan air, sementara pertanian dan kehidupan sehari-hari terancam.

BUKAMATA- Kekeringan akibar El Nino memaksa warga desa Karanganyar, Jawa Tengah, menggali dasar sungai untuk mendapatkan air bersih.

Peristiwa ini telah menarik perhatian media internasional Reuters. Dalam sebuah berita yang diterbitkan media internasional tersebut menyebutkan menceritakan perjuangan warga karanganyar menggali dasar sungai untuk mendapatkan air , meskipun air tersebut asin dan keruh.

Sudah empat bulan lamanya sejak desa Sunardi tidak melihat tetesan hujan.

Kekeringan yang diinduksi oleh fenomena El Nino mengeringkan Indonesia, sehingga petani tembakau seperti Sunardi melakukan hal yang mungkin satu-satunya dilakukannya untuk mendapatkan air: menggali dasar sungai yang telah kering.

Dalam waktu satu atau dua jam, air - yang asin dan keruh - akan mengisi lubang yang baru digali tersebut. Sunardi, bersama dengan puluhan warga lainnya di desa Karanganyar, Jawa Tengah, kemudian membawa air tersebut pulang untuk diminum, mencuci, dan mengairi tanaman pertanian yang perlahan mati.

"Kekeringan di desa ini sudah terasa sejak April, dan hujan belum turun sampai sekarang. Sumur-sumur di daerah ini telah mengering, jadi warga hanya bisa mendapatkan air dari dasar sungai," ujar Sunardi, kepada Reuters.

"Tanaman di sini, seperti jagung, semua telah layu. Tembakau bisa bertahan, tetapi tidak tumbuh optimal, jadi kita harus terus menyiraminya dengan air dari dasar sungai." lanjutnya.

Sunardi telah menggali dasar sungai sejak bulan Juni, ketika air di sumur-sumur mereka habis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mengatakan fenomena cuaca El Nino, yang membawa cuaca panas dan kering yang berkepanjangan, sedang mempengaruhi lebih dari dua pertiga wilayah negara ini, termasuk seluruh Jawa, sebagian wilayah Kalimantan utara, dan hampir seluruh wilayah Sumatra kecuali daerah pesisir.

Jumlah penduduk di daerah-daerah tersebut melebihi 70% dari total penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa, demikian menurut Ardhasena Sopaheluwakan, wakil kepala klimatologi di BMKG.

Para ilmuwan mengatakan bahwa El Nino telah menyebabkan gelombang panas rekor di kota-kota mulai dari Beijing hingga Roma, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan memengaruhi tanaman seperti gandum, minyak sawit, dan padi.

Pertanian menyumbang hampir 14% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dan sepertiga angkatan kerja bekerja di sektor pertanian, menurut data pemerintah.

Tris Adi Sukoco, pejabat di BMKG Jawa Tengah, mengatakan bahwa dengan tingkat curah hujan yang jauh lebih rendah di wilayah ini, petani seperti Sunardi seharusnya mengubah pola tanam mereka.

Namun petani tersebut mengatakan bahwa sudah terlambat.

"Meskipun sungai di sini benar-benar kering, kita harus mencari air di mana pun bisa ditemukan," katanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.