Dewi Yuliani : Senin, 12 Juni 2023 17:07
Ist

MAKASSAR, BUKAMATA - Jelang pelaksanaan puncak haji, suhu udara di Arab Saudi mulai memasuki musim panas dengan suhu udara mencapai 41 hingga 45 derajat celsius. Meski puncak musim panas jatuh pada Juli-Agustus 2023, namun kondisi Arab Saudi saat ini, khususnya Madinah, terbilang terik. 

Kabid Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, M Imran, mengatakan, cuaca panas Arab Saudi karakternya beda dengan Indonesia. "Di Indonesia paling panas 33-35 derajat celsius dengan kelembaban di atas 60 persen. Di sini (Arab Saudi) kelembabannya kering, di bawah 50 persen," ujar Imran di Madinah, Sabtu, 10 Juni 2023 lalu.

Tingkat kelembaban ini membuat jemaah haji tidak berkeringat meski panas menyengat. Padahal keringat ini mekanisme pertahanan tubuh, membuat permukaan kulit lebih dingin.

Dampaknya terhadap kesehatan, sambung Imran, ada tiga penyakit yang biasanya mengiringi. 

"Pertama Infeksi Saluran Atas Pernapasan (ISPA), ditandai dengan batuk. Kedua, dehidrasi. Kondisi ini cukup serius, sebab cuaca kering ini membuat orang yang beraktivitas di luar ruangan tidak gampang haus karena lambatnya penguapan," tuturnya.

Selain itu menurut Imran, yang paling parah adalah heat stroke. Bila sudah heat stroke penanganannya harus di rumah sakit. "Di Arab Saudi penguapan lambat jadi tidak gampang haus. Karena itu jemaah haji harus minum 200 mililiter per jam. Namun tidak diminum sekaligus, melainkan minum 1-2 teguk tiap berapa menit," ucap dia. 

Ia mengimbau jamaah agar selalu menggunakan payung dan  masker. "Jangan lupa juga untuk membawa spray untuk wajah. Jadi bila panas, tinggal menyemprotkan air ke wajah dan kulit yang terpapar sinar matahari. Hal ini bisa mengurangi dampak negatif panas," paparnya.

"Bila menemukan orang yang kepanasan, bawa orang tersebut ke tempat teduh. Kemudian gunakan water sprai berisi air dingin untuk mencegah heat stroke," tutup Imran. (*)