GOWA, BUKAMATA - Perkampungan ini jarang tersorot oleh publik. Padahal memiliki sejumlah budaya yang harus dilestarikan oleh generasi muda saat ini.
Perkampungan itu adalah Laskar Rasulullah. Letaknya di Nirannuang, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa.
Lokasinya 16 kilometer dari Sungguminasa, pusat pemerintahan Gowa. Nyaris seluruh rumah di perkampungan ini berbentuk panggung khas Bugis-Makassar.
Dan di setiap rumahnya memiliki puluhan benda pusaka yang diwariskan oleh leluhurnya, Al Kalam atau yang bernama lengkap Abdul Kadir Alam.
Benda pusaka itu diwariskan kepada para masyarakat di sana untuk memperjuangkan dan melestarikan budaya di Sulsel, tentang benda pusaka berupa badik hingga tombak yang diklaim dikumpul Al Kalam dari beberapa wilayah di Indonesia.
Yang lebih menarik lagi, masyarakat yang tinggal di perkampungan seluas 11 hektar ini menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Itulah sebabnya seluruh masyarakat yang menetap di sana membangun rumah khas Bugis-Makassar yang nyaris serupa bentuknya. Bahkan dibangun tanpa pagar pembatas.
Jubir Perkampungan Al Kalam, Asrul Majid, mengatakan, ia menyebut Laskar Rasulullah ini adalah komunitas yang sudah saling kenal sejak lama. Ia lebih menjunjung tinggi nilai persaudaraan tanpa sekat. Itulah sebabnya rumah di sana nyaris sama dan tanpa pagar. Bahkan bebas masuk ke rumah lain dan menyantap makanan yang tersedia.
"Ini (masyarakat di Perkampungan Laskar Rasulullah) sudah baku kenal sejak dulu. Jadi ini bukan lagi kerukunan tetangga tapi memang bersaudara. Jadi ngopi di mana pun, bisa dan makan di mana pun bisa karena sudah baku kenal," katanya, Jumat, 7 April 2023.
"Ini secara tegas Bapak Al Kalam mempercontohkan cara bersaudara dengan aset terbesar dari semua yang dimiliki oleh orang itu sendiri," sambung dia.
Bukan tanpa alasan. Perkampungan yang telah dihuni puluhan KK ini tujuannya untuk memuliakan Nabi dari segala macam tuduhan yang ia anggap tidak benar.
"Paling utama itu mengembalikan, istilahnya kebangkitan terkait dengan Islam itu sendiri atau Muhammad itu sendiri. Yang mana fitnah itu, istilahnya sudah banyak orang bagus sekolahnya. Cuman kan menjerit itu hati kalau Nabi kita itu dinamakan manusia biasa dengan seperti kita," tegasnya.
"Seperti itu bukan berarti sama. Ini seperti handphone tapi bukan handphone (biasa). Inilah yang mau dikembalikan pemahaman ini," pungkasnya.
Diketahui, perkampungan ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin tahu tentang budaya Bugis-Makassar. Mata pencaharian masyarakat di sana beragam. Ada petani, bahkan ada pula pejabat, pegawai swasta, bahkan aparat penegak hukum. (*)