BUKAMATA - Postingan-postingan seringkali menampilkan momen indah, bahagia dan istimewah. Dengan kondisi seperti itu, kita sangat bisa merasa gagal ketika membandingkan diri dengan orang lain. Kehidupan orang lain yang dipamerkan di media sosial nampak berlabel sukses dan bahagia. Kita mungkin bertanya pada diri sendiri, “Apakahkehidupan orang lain jauh lebih baik daripada kehidupan kita?”
Jika Anda telah menyadari betapa bahayanya racun media sosial, mungkin inilah waktu yang paling tepat untuk hiatus (istirahat sejenak) darinya. Hiatus bisa memberi Anda ruang dan waktu untuk benar-benar istirahat dari pemikiran ataupun perbandingan-perbandingan yang tidak diperlukan. Dan ada baiknya jeda itu dilakukan di minggu ini yang merupakan libur tahun baru.
Kepercayaan Diri dan Kesehatan Mental
Pada dasarnya manusia menciptakan media sosial untuk tujuan positif. Misal saja, menjalin silaturahmi virtual. Tetapi tidak semua pengguna bisa bijak dalam pemakaiannya. Alhasil selain dampak positif, ada pula dampak negatifnya. Pengguna media sosial cenderung memposting hal-hal terindah dari episode kehidupan mereka. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi siapa saja yang membandingkan
kehidupan riilnya dengan kehidupan orang lain di media sosial.
Bukan lagi hiburan yang dikonsumsinya melainkan racun yang membuatnya minder atau merasa gagal merasa tidak sesukses orang lain. Padahal tentu saja orang-orang yang pamer momen indah episode
kehidupannya di media sosial juga memiliki momen menyebalkan atau mengerikan. Hanya saja momen-momen itu tidak dibagikan di media sosialnya.
Pameran keindahan atau kebahagiaan di media sosial bisa memicu perasaan iri, depresi dan keterasingan diri. Perasaan-perasaan itu terkadang memicu Anda untuk mengikuti gaya hidup orang-orang di media sosial yang nampak bahagia, indah dan mungkin mewah.
Kecanduan Media Sosial
Pada mulanya media sosial adalah hiburan yang menarik. Tetapi seiring penggunaannya, media sosial menjadi candu dan naik level dari yang sekadar hiburan berubah menjadi kebutuhan.
Misal saja adanya fitur “suka”. Kita mungkin senang ketika orang lain memberikan respon suka pada postingan kita. Hal itu bisa memicuh kita untuk lebih sering memposting agar mendapatkan lebih banyak suka dari pengguna baik yang kita kenal maupun tidak.
Maka, tak heran jika kita melihat fenomena orang-orang memotret makanannya terlebih dahulu sebelum
menyantapnya demi kebutuhan postingan media sosial mereka. Sebuah studi di tahun 2019, dikutip dari Huffpost.com, membeberkan data bahwa orang yang menghabiskan dua hingga tiga jam di media sosial setiap harinya, lebih mudah menderita gangguan internal seperti kecemasan dan depresi.
Oleh karena itu adalah penting membuat jeda dalam penggunaan media sosial dan merefleksi kehidupan kita. Mengapresiasi diri kita yang telah berusaha keras menjalani hidup bisa dengan mendengarkan musik, menyeduh teh sembari membaca buku, atau melakukan kegiatan lain yang lebih nyata seperti bersepeda dan berenang.
Tidak lagi terjebak media sosial yang seringkali memanipulasi kehidupan agar senantiasa nampak sukses dan bahagia.
BERITA TERKAIT
-
Ketua TP PKK Apresiasi Terobosan PIK-R Generik SMAN 4 Luwu Utara dalam Edukasi Kesehatan Mental
-
Masyarakat RI kini Bisa Cek Kesehatan Mental Gratis, Begini Caranya!
-
Ucapan Positif Dapat Bangun Kesehatan Mental Anak
-
Tips Jadi Pribadi Cuek Demi Mental yang Sehat
-
6 Tips Ini Bisa Bikin Pikiran dan Hati Tenang, Salah Satunya Rutin Meditasi