LUTIM, BUKAMATA – Di balik kejauhan, sekitar 10 kilometer dari pusat penambangan, tampak beberapa pekerja melaksanakan tugas dengan bijak. Terdengar suara tanah yang perlahan terkikis demi mendapatkan kekayaan alam berupa nikel yang melimpah.
Beberapa pundak gunung juga sudah nampak tandus. Namun di antaranya telah ditumbuhi pohon yang rindang. Di balik gunung, kilau danau memancarkan cahaya bersamaan dengan terik mentari pukul 02.00 siang waktu Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Sorowako memang dikenal sebagai wilayah tambang sejak kehadiran PT Vale Indonesia pada 54 tahun silam. Meski menjadi Kota Tambang, Sorowako tetap terawat. Tak sedikit pun kerusakan alam yang nampak di wilayah berjuluk Bumi Batara Guru itu.
Justru sebaliknya, alam sekitar Luwu Timur, khususnya Sorowako menjadi perhatian sejumlah pihak. Tak hanya masyarakat di Sulawesi Selatan, tapi juga pihak pemerintah seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.
Menurut Kemenparekraf, aktivitas tambang yang dilakukan PT Vale Indonesia berjalan harmonis dan seirama dengan kondisi alam yang sangat terawat di Sorowako.

"Kalau yang saya tahu industri tambang di sini sudah beroperasi 54 tahun. Tapi danaunya masih sangat terawat, tak ada limbah yang nampak. Airnya juga masih sangat bening. Ini bukti pengolahan lingkungannya baik,"ungkap Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf, Indra Ni Tua mewakili Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat berkunjung ke Sorowako beberapa waktu lalu.
Menurut Indra, biasanya tambang dan industri pariwisata selalu bertentangan. Namun, di Sorowako berbeda, aktivitas tambang dan pariwisatanya berjalan beriringan, sehingga membuat daerah tersebut maju dan terawat.
"Ini bukti adanya komitmen dari perusahaan tambang tersebut (PT Vale), untuk tetap menjaga alam selama masa aktivitas tambang yang mereka lakukan,"ungkapnya.
PT Vale Indonesia Komitmen Merawat dan Menjaga Alam
Head of Communication PT Vale Indonesia, Bayu Aji dalam kegiatan Media Meet Up di Aryaduta Hotel, Jumat (4/11/2022) menjelaskan, bahwa PT Vale Indonesia sangat memerhatikan lingkungan di sekitar area pertambangan.
Dalam menjalankan aktivitas tambang, PT Vale menerapkan beberapa sistem yang mampu meminimalisir kerusakan lingkungan.
"Karena kami tak hanya mencari keuntungan, tapi juga komitmen menjaga lingkungan,"ungkapnya.
Komitmen ini dilakukan perseroan tersebut dengan menjalankan sejumlah program, diantaranya pengelolaan limbah pabrik yang tidak langsung terbuang ke area Danau Matano.
"Jadi sebelum limbah masuk ke danau, kami kelolah lebih dulu agar tak merusak lingkungan. Pada pengelolaan ini kami punya alat mirip PDAM, sehingga limbah yang masuk sudah setara dengan jenis air layak minum,"kata dia.
Selain pengelolaan limbah dan air danau, PT Vale juga melakukan pengelolaan debu-debu pertambangan agar tak merusak udara di sekitar Luwu Timur.
"Jadi debu tambang akan ditampung dulu, sehingga yang masuk ke udara wilayah pertambangan akan sangat minim. Inilah yang membuat Luwu Timur, khususnya Sorowako tetap asri dan terawat di tengah wilayah pertambangan yang sudah beroperasi 54 tahun ini,"jelas Bayu.
Menurutnya, menjaga lingkungan di area pertambangan dibutuhkan pengelolaan yang baik dan aksi yang nyata. Seperti yang dilakukan PT Vale Indonesia saat ini.

Dimana, perseroan tersebut telah komitmen berkontribusi bagi negeri, tak hanya memberikan dampak ekonomi bagi daerah, tapi juga menjaga lingkungannya dengan menerapkan sistem pertambangan berkelanjutan.
"Jika kita mengupayakan pengelolaan tambang dengan baik, pasti lingkungan dan alam akan terjaga,"ucap Bayu.
Selain penyaringan limbah dan debu, PT Vale juga komitmen mengintegrasikan aktivitas penambangan dengan rehabilitasi lahan pasca tambang.
Dalam rehabilitasi tersebut, CEO PT Vale Indonesia, Febryani Eddy mengungkapkan bahwa PT Vale melakukan pembibitan nursery sejak 2006 di atas lahan seluas 2,5 hektar dengan kapasitas produksi rata-rata 700.000 bibit per tahun.
Hal ini dilakukan, untuk menjaga wilayah dan alam agar tetap hijau meskipun aktivitas pertambangan telah selesai.
“Kami tak hanya ingin mengambil keuntungan dari bumi. Tapi kami juga ingin menjadi produsen nikel berbasis energi bersih,"ungkap Febriany saat menghadir press conference virtual.
Saat ini, kata Febryani, PT Vale memiliki 3 PLTA yang mampu meniadakan emisi karbon sebesar 1.096.705 ton CO2eq per tahun. Dengan adanya PLTA tersebut, PT Vale tidak lagi menggunakan batubara sebagai bahan bakar.
“PLTA tersebut mampu mendistribusikan listrik 10,7 megawatt untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Luwu Timur,”ungkapnya.
Upaya PT Vale Indonesia dalam menjaga alam sekitar Luwu Timur, nyatanya mendapat pengakuan dari masyarakat sekitar.
Saat dikonfirmasi Bukamata News, Kepala Desa Sorowako, Jihadin Peruge, menyampaikan bahwa perseroan tersebut telah banyak berkontribusi bagi daerah, tak hanya perihal kesejahteraan masyarakat, tapi juga kelestarian lingkungan.
“PT Vale banyak menghadirkan program lingkungan demi menjaga ekosistem sekitar. Hanya saja kami berharap, setiap program yang akan dihadirkan bisa dirembukkan terlebih dahulu kepada kami (masyarakat),”ungkapnya.
Komitmen PT Vale Merawat dan Menjaga Lingkungan Dipuji Akademisi
Upaya PT Vale Indonesia dalam menjaga dan merawat alam di wilayah pertambangan tersebut, mendapat pujian dari Akademisi Lingkungan Universitas Hasanuddin, Irwan Ridwan.
Irwan Ridwan mengakui bahwa PT Vale Indonesia benar-benar menjaga lingkungan dalam menjalankan aktivitas tambang di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Terbukti, kata Irwan, dalam beberapa kajian yang dilakukannya, PT Vale memberikan minim dampak kerusakan lingkungan selama melakukan pertambangan di wilayah Sorowako.
"Saya tidak bisa bilang zero impact, tapi saya akui bahwa PT Vale termasuk perusahaan tambang yang pengelolaan lingkungannya sangat baik,"ungkap Irwan.
Irwan bilang kerusakan lingkungan dari aktivitas tambang PT Vale Indonesia di bawah ambang batas yang ditetapkan. Artinya, selama ini dalam beroperasi perseroan tersebut tidak melakukan pelanggaran.
"Kalau batas yang ditetapkan itu 7, saya bilang PT Vale ini berada di angka 4-5. Ini artinya aktivitas mereka sangat aman,"terangnya.
BERITA TERKAIT
-
Pemkab Luwu Timur - BBWS Pompengan Jeneberang Teken MoU Pengendalian Banjir Sungai Malili
-
Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Rp1 Miliar untuk Korban Kebakaran di Sorowako
-
48 Rumah Terbakar di Sorowako, Gubernur Sulsel Bantu Rp1 Miliar Dana Kedaruratan
-
PT Vale Komitmen Hentikan Kebocoran, Siap Pulihkan Lingkungan dan Tangani Dampak
-
Gubernur Sulsel Minta PT Vale Wajib Bertanggungjawab Atas Dampak Kebocoran Pipa di Towuti