BUKAMATA - Krisis energi dan pangan yang berimbas pada kenaikan harga memicu kemarahan masyarakat di negara-negara bagian di Amerika Latin Seperti Argentina, Ekuador hingga Panama.
Demonstrasi besar-besaran terjadi di tiga negara ini. Di Panama misalnya, demonstrasi besar-besaran terjadi di bahkan unjuk rasa itu sudah terjadi sejak 13 Juli 2022.
Ribuan orang berbaris di ibukota dan kota-kota seluruh Panama dan membuat penghalang jalan. Seperti dikutip france24, warga kembali memblokir jalan pada hari Senin, 18 Juli 2022 lalu karena menolak kesepakatan yang diteken pemerintah untuk mengakhiri protes dengan imbalan pemotongan harga bahan bakar.
Luis Sanchez, seorang pemimpin kelompok sipil Anadepo mengatakan, perjanjian tersebut "ditandatangani di bawah tekanan". Anggota telah memilih melanjutkan mobilisasi dengan truk dan demonstran melumpuhkan Jalan Raya Pan-Amerika yang strategis.
Sementara itu, tidak ada kesepakatan," kata Sanchez sambil merobek selembar kertas. Pada hari Minggu, pemerintah dan beberapa pemimpin protes telah sepakat mengakhiri demo yang sudah terjadi lebih dari dua minggu.
Penyebab protes itu karena harga bahan bakar yang tinggi dan meningkatnya biaya hidup. Protes terbesar pada Senin lalu terjadi di ibu kota, mereka menutup akses jalan dengan membakar barikade ban sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas.
Peserta unjuk rasa juga memblokir jalan raya Ran-Amerika yang menghubungkan Panama dengan Amerika tengah. Itu adalah jalur transportasi utama barang di negara itu.
Tidak jauh berbeda dengan Panama, Di Ekuador, , kenaikan harga banyak bakar telah berdampak pada ekspor produk pertanian utama mereka, pisang.
Curah hujan yang deras memerlukan pompa diesel dalam jumlah besar. Dengan harga bahan bakar yang melambung, para petani memiliki keterbatasan yang sulit diatasi.
Menurut Raul Villacres dari Pulso Bananero, konsultan perdagangan pisang di Guayaquil, produksi pisang Ekuador turun 7% dibandingkan dengan tahun lalu. Sebagian karena kenaikan biaya solar dan bensin.
Presiden Ekuador Guillermo Lasso, misalnya, telah mendapat tekanan untuk membatasi harga bensin maksimal USD 2,4 per galon. Padahal, hal tersebut akan memberikan tambahan beban kepada keuangan negara hingga USD 3 miliar.
Di Argentina, di mana menteri keuangan negara itu terpaksa mengundurkan diri karena inflasi yang ekstrem, seorang pekerja pengiriman makanan Buenos Aires mengatakan kepada CNN bahwa kondisi saat ini lebih berat dibandingkan dengan saat awal pandemi.
"Semua orang mengeluh," tutur Federico Mansilia, seorang ayah dari dua anak. "Setidaknya di masa pandemi, pemerintah dan oposisi bekerja sama. Sekarang polarisasi dan kepahitan tumbuh lagi," imbuhnya.