BUKAMATA- Bank Indonesia memprediksi ketidakpastian ekonomi global masih akan tinggi. Hal ini seiring dengan makin mengemukanya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi global.
Untuk itu, Bank Indonesia terus menempuh berbagai langkah penguatan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono dalam keterangan resminya menabarkan Lima stategi Bi dalam menjaga stabilitas dalam negeri diantaranya sebagai berikut:
1.Memperkuat kebijakan nilai tukar Rupiah
Hal ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pengendalian inflasi dengan tetap memperhatikan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya.
2.Mempercepat normalisasi kebijakan likuiditas
Upaya yang ditempu adalah dengan meningkatkan efektivitas pelaksanaan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) dan Operasi Moneter Rupiah
3. Melanjutkan kebijakan Transparansi SBDK
Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap melanjutkan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan pendalaman pada komponen Overhead SBDK
4. Melanjutkan masa berlaku kebijakan tarif SKNBI
Bank Indonesia memutuskan melanjutkan masa berlaku tari SKNBI sebesar Rp1 dari Bank Indonesia ke bank dan maksimum Rp2.900 dari bank kepada nasabah, dari semula berakhir 30 Juni 2022 menjadi sampai dengan 31 Desember 2022. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya dan aktivitas ekonomi masyarakat serta memudahkan transaksi keuangan dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi.
5. Memperkuat kebijakan internasional
Dalah satu upaya memperkuat kebijakan internasional dengan memperluas kerja sama cross border payment connectivity, fasilitasi penyelenggaraan promosi investasi dan perdagangan di sektor prioritas bekerja sama dengan instansi terkait, serta bersama Kementerian Keuangan menyukseskan 6 (enam) agenda prioritas jalur keuangan Presidensi Indonesia pada G20 tahun 2022.