Samsul Bahri : Jumat, 03 Juni 2022 19:52

PALOPO, BUKAMATA - Masih soal pernyataan Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman 'Katanya Ada Mau Keluar dari Sulawesi Selatan, Kenapa Tidak Sekalian Keluar dari Indonesia'. Pernyataan Andi Sudirman Sulaiman ditanggapi serius oleh Aliansi Wija To Luwu.

Bahkan, Aliansi ini meminta Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP-RI) dan Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS) memberikan pendidikan khusus kepada Gubernur Sulsel tentang wawasan kebangsaan saat melakukan demo di Kota Palopo, Jumat (3/6/2022).

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Rakyat Miskin Demokratik (DPP SRMD), William Marthom dalam orasinya menyampaikan, Gubernur ASS agar segera meminta maaf secara terbuka melalui saluran media nasional, regional maupun media lokal, terkait pernyataan ASS yang terkesan menyerukan pengusiran warga Kecamatan Rampi Kabupaten Luwu Utara, Sulsel agar keluar dari wilayah NKRI.
 
Menurut William, statemen Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman (ASS) yang disampaikan dalam forum resmi saat menghadiri Peringatan Hari Jadi Kabupaten Luwu Timur ke-19 di Malili pada tanggal 12 Mei 2022 melukai hati dan perasaan Wija To Luwu pada umumnya dan warga atau etnik Rampi pada khususnya. Wiliam pun mengulang kembali pernyataan ASS pada saat itu, "Sama yang ke Rampi, saya sampaikan di Luwu Utara tadi, katanya ada yang mau keluar dari Sulawesi Selatan, kenapa tidak sekalian keluar dari Indonesia, gitukan,” demikian Willian mengulang yang dianggapnya adalah pernyataan yang melukai.
 
“Ironisnya, bahasa yang terkesan mengusir warga Rampi untuk keluar dari Indonesia disampaikan oleh seorang kepala daerah di Provinsi Sulsel. Bahasa yang dilontarkan oleh Gubernur Sulsel tersebut, tidak hanya terkesan pelecehan atau intimidasi terhadap warga Rampi, akan tetapi yang lebih fundamentalnya adalah mencoba memprovokasi warga Kecamatan Rampi untuk melakukan tindakan makar maupun gerakan separatis sebagai respon terhadap kegagalan pemerintah dalam melakukan pemerataan pembangunan di wilayah Rampi,” kata William.
 
Ia menambahkan, ungkapan seorang Gubernur Sulsel ASS adalah sebuah statemen yang tidak pantas dilontarkan oleh seorang kepala daerah, dengan alasan dan dalil apapun.
 
“Pernyataan Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman yang disampaikan dalam forum resmi di Malili pada waktu menghadiri perayaan HUT Kabupaten Luwu Timur pada pertengahan Mei 2022 lalu, tidak mencerminkan ucapan seorang pemimpin daerah yang negarawan. Ucapan itu, selain melecehkan dan mendiskriditkan warga Rampi, bermuatan provokatif untuk memecah belah wilayah kedaulatan Tana Luwu atau Luwu Raya maupun wilayah kedaulatan NKRI,” tegas William.
 
Sementara itu, Ketua Eksekutif Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Palopo, Muhammad Iqbal mendesak Gubernur Sulsel, ASS agar segera meminta maaf kepada masyarakat Luwu Raya pada umumnya dan warga Rampi khususnya, terkait ucapan yang disampaikan ASS pada peringatan HUT Kabupaten Luwu Timur, yang terkesan diskirimasi dan rasis terhadap warga Kecamatan Rampi atau etnik Rampi.
 
“Kami mendesak Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman untuk segera meminta maaf pada masyarakat Luwu Raya, khususnya pada warga Rampi, terkait pernyataannya yang memunculkan gejolak itu. Jika tidak segera meminta maaf melalui saluran media nasional maupun media regional dan lokal, maka kami akan terus melakukan aksi perlawanan hingga Pak Gubernur meminta maaf,” desak Iqbal.
 
Dalam aksi yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi (PB IPMR), Ramon Dasinga Torau juga melontarkan tuntutan yang sama kepada Gubernur Sulsel.
 
“Pak Gubernur Sulsel, wajib meminta maaf kepada warga Rampi atas ungkapannya yang terkesan melecehkan kami warga Kecamatan Rampi. Sebab pengusiran warga Rampi untuk keluar dari wilayah NKRI yang disampaikan secara inplisit oleh ASS adalah sebuah ucapan yang tidak berwawasan kebangsaan. Sebab jika Pak Gubernur mau bercanda, mestinya tidak disampaikan dalam forum resmi peringatan HUT Kabupaten Luwu Timur. Kalau mau bercanda tawa, itu ada waktu dan tempatnya, salah satunya adalah di acara Stand Up Comedy jika mau lucu-lucuan di atas panggung hiburan,” ujar Ramon.
 
Lebih lanjut Ramon, aktivis asal Kecamatan Rampi tersebut, juga melontarkan bahwa Pemerintah Sulsel yang dinahkodai ASS gagal melakukan pemerataan pembangunan dan gagal total mensejahterakan masyarakat Luwu Raya, termasuk wilayah Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara yang hingga hari ini masih terisolir karena infrastruktur jalannya tidak memadai.
 
“Karena Gubernur Sulsel gagal total, maka solusinya adalah pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya, agar pemerataan pembangunan di Luwu Raya dapat diwujudkan. Demikian pula dengan peningkatan kesejateraan Wija To Luwu di wilayah Luwu Raya,” kuncinya.    
 
Untuk diketahui, aksi unjukrasa yang mengatasnamakan Aliansi Wija To Luwu merupakan gabungan dari sejumlah organisasi kemahasiswan dan Ormas yang ada di Kota Palopo, diantaranya IPMR, LMND, IPMAPA, PPMTP, HMRI, IPMS, HAM BASTEM, dan SRMD.
 
Aksi Wija To Luwu yang dimulai sekitar pukul 09.00 WITA hingga pukul 11.15 WITA ini berjalan lancar dan tertib, mendapat pengawalan ketat dari jajaran Polres Palopo.