BUKAMATA, - Pengembangan mobil listrik sebagai kendaraan masa depan yang lebih ramah lingkungan sedang banyak digarap oleh perusahaan otomotif dunia.
Trend ini bisa menjadi momen berharga bagi Indonesia. Mengingat baterai listrik sendiri merupakan komponen yang sangat penting dari sebuah mobil listrik, yang berfungsi sebagai sumber energi untuk menjalankan mesin.
"Kita punya nikel dan kobalt yang merupakan material penting untuk baterai litium. Potensi-potensi ini yang perlu kita optimalkan ke depannya," kata Menteri Agus Gumiwang dalam keterangan resminya, pekal lalu.
Seperti diketahui, Indonesia bak memiliki harta karun yang jadi rebutan dunia. Harta karun tersebut adalah nikel. Betapa tidak, saat ini lebih dari setengah cadangan nikel dunia, terkandung dalam tubuh ibu pertiwi.
Berdasarkan Booklet Tambang Nikel 2020 Kementerian ESDM, saat ini cadangan nikel Indonesia mencapai 72 juta ton atau sekitar 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139,4 juta ton.
Sementara itu 48 % sisanya tersebar di beberapa negara misalnya Australia, memiliki 15% , Brasil menyimpan 8% dan Rusia 5% dari total cadangan dunia. Sedangkan 20% sisanya tersebar di negara-negara lain, antara lain Filiphina, China, Kanada, dan negara lainnya.
Ketersediaan nikel begitu melimpah di Indonesia tersebar di wilayah Halmahera Timur (Maluku Utara), Morowali (Sulawesi Tengah), Pulau Obi (Maluku Utara), dan Pulau Gag di Raja Ampat. Sumber daya alam ini dilihat sebagai peluang membangun industri baterai listrik jenis NCA (nickel manganese kobalt oxide) dan NMC (nickel manganese cobalt oxide) atau smelter forenikel.
Dengan kepemilikan harta karun tersebut, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita pun optimis bahwa Indonesia akan menjadi pemain penting dalam mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik dunia.
Agus Gumiwang mengatakan bahwa pemerintah saat ini sudah semakin serius mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik dari hulu sampai hilir. Salah satu caranya adalah melalui peningkatan investasi untuk memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.
"Sudah banyak investor yang mengajukan proposal ingin berkontribusi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Misalnya ada industri yang ingin memproduksi baterainya, termasuk dari sektor otomotif," ungkapnya.
Dikatakan, beberapa investor di Indonesia akan memulai konstruksi pembangunan pabriknya dalam upaya mengolah nikel dan kobalt menjadi bahan baku baterai litium pada tahun 2022 ini.
Pemerintah menargetkan pada tahun 2024 nanti mobil-mobil listrik yang diproduksi di Indonesia sudah menggunakan baterai listrik dan juga komponen-komponen penting lainnya yang diproduksi di sini.
Pada peta jalan industri otomotif nasional, ditargetkan sebanyak 20% kendaraan berbasis baterai listrik akan berseliweran pada tahun 2025.
Ini seiring dengan upaya industri otomotif yang terus melakukan efisiensi untuk jenis teknologi Internal Combustion Engine (ICE), Hybrid, dan Plug-in Hybrid.
"Ke depan, teknologi fuel cell berbasis hydrogen juga telah terdapat dalam peta jalan industri otomotif nasional, dengan semangat untuk menuju produksi industri kendaraan ramah lingkungan," tutur Menteri Agus Gumiwang.
Lebih lanjut, dalam pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik, industri otomotif dalam negeri ditargetkan dapat memproduksi mobil listrik dan bis listrik sebanyak 600 ribu unit pada tahun 2030.
Sehingga dengan angka tersebut akan dapat mengurangi konsumsi BBM sebesar 3 juta barrel dan menurunkan emisi CO2 sebanyak 1,4 juta Ton.
"Upaya strategis ini diharapkan pula dapat mendukung pemenuhan komitmen pemerintah Indonesia terkait pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% pada tahun 2030, dan di tahun 2060 masuk ke emisi nol atau net zero carbon," imbuhnya.
BERITA TERKAIT
-
Bos Toyota Nilai Mobil Listrik Tak Selalu Ramah Lingkungan
-
BYD Klaim Kuasai 50 persen Pasar Mobil Listrik di Indonesia
-
Tumpukan Mobil Chery Terbakar di Bekasi, Perusahaan Klaim Bukan Kendaraan Listrik
-
Donald Trump Cabut Dukungan Mobil Listrik di AS
-
Perusahaan Swasta Terbesar di Vietnam, VinFast Jajaki Investasi di Sulsel