Rahma Amin : Minggu, 09 Januari 2022 18:01
PENJAJAKAN. Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arif saat menemui Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal di Sukarno Street, Cankaya, Ankara, Turki, pada akhir pekan lalu.

MAKASSAR, BUKAMATA -- Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arif menjajaki kerja sama antara Indonesia dan Turki, khususnya di Bidang Infrastruktur, Pendidikan, dan Pariwisata.

Muzayyin menemui Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal di Sukarno Street, Cankaya, Ankara, Turki, pada akhir pekan lalu.

Muzayyin menyampaikan harapan dan usulan agar hubungan kerja sama dapat dijalin secara spesifik dengan pemerintah daerah Sulsel. Antara lain dengan meningkatkan akses pasar, terutama untuk komoditas pertanian, perikanan, serta pariwisata.

Muzayyin pun berterimakasih atas penerimaan Dubes RI. "Semoga kunjungan ini menjadi pembuka kerja sama tersebut," tutur alumni Pesantren Darul Istiqamah, Maccopa, Maros itu.

Muzayyin pun mengaku bangga. Sebab kedatangannya adalah kunjugan perdana dari daerah ke Kantor Kedubes Indonesia yang baru dibuka 1 Januari 2022. Kantor anyar tersebut berdiri di Jalan Sukarno.

Dalam kunjungan tersebut, Muzayyin juga memperkenalkan anggota rombongannya. Mulai dari Mujawwid Arif (pimpinan pesantren), Gunandar Azikin (pengusaha kuliner), Ratna (penyuluh agama, praktisi pendidikan), Burhan (pengusaha kopi), dan Akbar (pengusaha kafe dan sekretaris Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional Kabupaten Maros).

Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal merespon positif tujuan kedatangan Muzayyin."Kami siap memfasilitasi kerja sama dengan kontraktor Turki," terang pemegang gelar doktor politik dari University of Bucharest, Rumania itu.

Iqbal menuturkan bahwa Turki adalah negara terbesar kedua setelah Tiongkok yang berinvestasi di bidang infrastruktur di luar negeri.

Pertemuan tersebut berlangsung hangat dan penuh keakraban. Sesekali Iqbal dan Muzayyin menyelipkan Bahasa Arab dalam obrolan.

"Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren, kita tidak mungkin menghapus status kita sebagai santri, sepanjang hayat," tutur Iqbal yang pernah mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam, Pabelan, Surakarta.(*)

TAG